Harga Sawit Meroket Selama Pendemi

43
David Zulkarnain – Beberapa buruh sedang menurunkan tandan sawit dari sebuah perahu di dermaga Sungai Way Pisang, Desa Suka Pura, Kecamatan Sragi, Kamis (13/8).

SRAGI – Selama pendemi Covid-19 harga sawit di Kecamatan Sragi terus naik. Berbeda dengan komoditas pertanian lain, seperti padi dan jagung justru mendapat harga yang jatuh.

Salah satu pengusaha sawit di Kecamatan Sragi, Qodri mengatakan, sejak dua bulan lalu harga sawit di wilayah itu kian membaik. Harga ditingkat petani semula berada di angka Rp 600 per kilogram, kini berada diangka Rp 1.200 per kilo gramnya.

“Dari bulan Juli, harga sawit yang jatuh di angka 600 rupiah per kilogramnya, sekarang sudah diangka Rp 1.200. Harga naik dua kali lipat dalam waktu yang cukup singkat,” kata Qodri memberikan keterangan kepada Radar Lamsel saat ditemui di Kediamannya, Desa Bakti Rasa Senin (13/8) kemarin.

BACA :  Hasil Panen  Padi Diprediksi Meningkat

Anggota Komsisi II DPRD Lampung Selatan ini menjelaskan, harga sawit yang meroket bukan dipengaruhi pandemi Covid-19. Namun disebabkan merosotnya jumlah produksi perkebunan sawit di Kecamatan Sragi.

Hasil panen petani merosot hingga 90 persen. Biasanya dalam satu hektar menghasilan 1,5 ton tandan buah segar (TBS), kini hanya menghasilkan 150 kilogram setiap panen dua pekan sekali.

“Pohon sawit sekarang sedang ngetrek atau tidak berbuah, tandannya kosong. Ini yang mempengaruhi harga sawit yang terus mengalami kenaikan,” tuturnya.

Belum lagi, sekitar 90 persen perkebunan sawit petani di Sragi kini telah dialihfungsikan menjadi kebun jagung. Sebab, sejak tahun 2014 silam petani kerap terpukul dengan harga sawit yang selalu murah.

BACA :  Empat Warga Kualajaya Reaktif Covid-19

Dari sekitar 400 hektar perkebunan sawit petani, kini hanya tersisa sekitar 40 hektar.

“Ya sekitar sepuluh persen lagi kebun sawit petani yang masih tersisa. Sebagian besar sudah menjadi kebun jagung. Enggak cuma di Sragi saja, kebun sawit di kecamatan lain juga banyak yang ditebang karena petani terpukul dengan harga yang murah,” terangnya.

Agus (60) pengusaha sawit lainnya juga mengungkapkan hal yang sama, walaupun harga sawit ditengah pandemi Covid-19  terus meroket. Namun penjualan dari petani sangat sepi.

“Yang jual enggak ada, pohoh sawit banyak yang tidak berbuah. Panen satu hektar cuma dapat 80 kilogram. Itu yang membuat harga sawit terus merangkak naik,” pungkasnya. (vid)