Hasil Panen Menurun, Harga Naik

434

SRAGI – Sebagian petani di Kecamatan Sragi mulai memasuki musim panen gadu. Namun sayang, hasilnya tidak sesuai yang diharapkan petani setempat. Hasil panen padi mengalami penurunan.

Wardi (49) salah satu petani Desa Kuala Sekampung mengatakan, minimnya pasokan air pada musim kemarau menyebabkan pertumbuhan padi jadi terhambat yang mengakibatkan menurunya hasil panen. “Penyebabnya karena pasokan air kurang, jadi hasil panennya kurang maksimal,” kata di kepada Radar Lamsel, Selasa (23/10).

Dibandingkan dengan hasil panen pada musim rendeng (hujan), Wardi menerangkan, pada musim gadu hasil panen padi mengalami penurunan hingga 40 persen. “Kalau musim rendeng hasil penen bisa sampai 8 – 9 ton per hektarnya, tapi kalau musim gadu saat ini hanya 5 – 6 ton saja,” ucapnya.

BACA :  Kebun Hidroponik Digarap Akhir Oktober

Sutiman (46), petani lainnya di Desa Baktirasa mengaku, mengalami penurunan hasil panen yang cukup drastis hingga 50 persen. “Cuma dapat 4 ton, Mas. Padahal sebelumya sampai 8 ton. Tapi masih bisa bersyukur masih bisa panen dan juga saat ini petani terbantu dengan harga gabah yang cukup tinggi,” ujarnya.

Terpisah Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Penyuluh Pertanian Kecamatan Sragi Eka Saputra menjelaskas, saat ini untuk di wilayah setempat seluas 300 hektar yang sudah masuk masa panen. “Saat ini sudah 300 hektar yang sudah panen. Itu tanaman padi yang ditanam pada bulan Juli lalu,” tuturnya.

BACA :  White Syndrome Melanda Petambak Merugi

Meski mengalami penurunan hasil panen, lanjut Eka, saat ini masih terbantu dengan harga gabah yang cukup tinggi, yaitu Rp 5.000 per kilogramnya. “Meski hasil panen turun, namun petani masih terbantu dengan harga gabah yang tinggi saat ini,” tutupnya. (vid)