Ibu Sakit, Ayah Wafat, Siswa SMA jadi Tulang Punggung

123
RIFKY - Murjilah saat dipasangkan infus dari petugas klinik sekitar, Senin (26/10).

TANJUNG SARI – Malang nian nasib Wahyu (18) warga Dusun IV, Desa Wonodadi Kecamatan Tanjungsari. Di masa remajanya, Wahyu mau tak mau harus menjadi tulang punggung keluarga menggantikan peranan ayahnya yang telah wafat sepekan lalu akibat penyakit paru-paru.

Belum lagi fokus mencari nafkah, Wahyu juga mesti mengurus Mujilah (38) ibu tercinta yang mengidap chronic gastiris atau gangguang kronis pada lambung sejak tiga tahun silam. Penyakit itu terus menggerogoti tubuh ibunya yang makin hari semakin kurus.

“Ibu sakit seperti ini sejak pulang kerja dari Jakarta jadi Asisten Rumah Tangga tiga tahun lalu. Dulu badannya gemuk nggak kurus kaya sekarang ini,” Kata Wahyu kepada Radar Lamsel di kediamannya, Senin (26/10).

Tak hanya mengurus ibunda yang terbaring lemah, Wahyu juga memikirkan nasib adiknya. Karenanya ia kerap melakoni upahan di ladang milik orang lain demi mengurus keluarga sepeninggalan mendiang ayahnya.

BACA :  Komunitas Dapat Bibit dan Obat dari Maporinas

“Saya tinggal ber empat, Nenek, Ibu (Mujilah), saya sama adik. Saya kerja di ladang orang tapi lahannya punya PT, ngerawat tanam cabai, jagung. Seharinya saya dibayar Rp 60.000 kotor. Saya kerja untuk keluarga, ya masih dibantu sama saudara,” Pungkasnya.

Sambung Wahyu, dia menerangkan, satu tahun yang lalu, Murjilah sudah sempat dirawat di Rumah Sakit (RS), dia didiagnosa Chronic Gastritis. Sementara, ayahnya (Sudarto), meninggal dunia sesaat dirawat di RS Umum Abdul Muluk, Bandar Lampung.

“Bapak (Sudarto) sakit sudah tiga bulan, tapi nggak dirasa, ketauan ambruk baru sebulan, meninggalnya di RS. Ibu (Mujilah) juga udah pernah dirawat satu tahun yang lalu,” Ujarnya.

Kendati begitu, ibu kandung Wahyu, Murjilah bersyukur memiliki putera yang amat berbakti, Wahyu yang masih menempuh pendidikan di SMAN1 Tanjung Sari saat ini menjadi tulang punggung keluarga dengan berkerja di perkebunan milik orang lain.

Kondisi memprihatinkan tersebut bukan tanpa perhatian relawan, ada saja pihak yang menawarkan Mujilah untuk dirujuk ke RS. salahsatunya Nonie Aprilina, penggiat sosial asal Tanjung Bintang. Namun, pihak keluarga tidak mengizinkan, karena dikhawatirkan pihak keluarga tidak ada yang sempat merujuk saat Mujilah dirawat.

BACA :  Pilih Tempuh Kebun Karet, Hindari Jalan Rusak

“Saya sudah berusaha membujuk untuk membawa bu Mujilah untuk dirujuk ke RS, tapi keluarganya nggak ngizinin. Jadi sementara ini sebisa mungkin dirawat dirumah. Kalau memang perlu dirujuk nanti tetap kita rujuk, perkembangannya dirumah akan tetap kita pantau,” Beber Nonie.

Disisi lain, Kepala Desa Wonodadi, Suparman mengungkapkan, pihaknya sudah berupaya membantu Mujilah. “Ya, itu sudah kita buatkan BPJS nya, kita yang urus. Semisal mau dirujuk ke RS transportnya ditanggung,” singkatnya.

Dari hasil pantauan Radar Lamsel di kediamannya, dalam melakukan aktifitas, Mujilah masih perlu didampingi oleh pihak keluarga maupun orang lain, karena kesulitan untuk berjalan.(rif)