Inovasi Stater Agens Hayati Buatan Petani

34
Ist - Kelompok tani tengah membuat stater agens hayati trichoderma. Pupuk kompos ini dibuat untuk persiapan musim tanam komoditi cabai, jahe, dan pisang, Selasa (22/9).

Persiapan Menghadapi Musim Tanam

PENENGAHAN – Kelompok tani di kecamatan Penengahan terus melahirkan inovasi. Contohnya pada musim tanam ini, kelompok tani tengah membuat stater agens hayati trichoderma. Pupuk kompos ini dibuat untuk persiapan musim tanam komoditi cabai, jahe, dan pisang.

Kelompok tani Rajabasa di desa Waykalam sengaja membuat pupuk tersebut sedini mungkin. Sebagai bentuk persiapan sarana pendukung budidaya komoditi-komoditi tersebut. Zainal Abidin, salah satu pengurus kelompok tani Rajabasa, mengatakan bahwa kelompoknya telah membuat kompos sebanyak 25 ton.

Menurut dia, cara pembuatan pupuk yang satu ini tidaklah sulit. Semua petani bisa melakukannya karena bahan-bahan yang diperlukan mudah ditemukan. Petani bisa memanfaatkan bahan atau limbah pertanian yang ada di sekitar lingkungan, yaitu kulit kopi, batang pisang, dan lain-lain.

BACA :  Ditlin Kementan Minta Petani RTL

“Kita juga bisa manfaatkan kotoran ternak, bahkan jerami sekali pun,” katanya kepada Radar Lamsel, Selasa (22/9/2020).

Sebelum diaplikasikan ke tanaman, lanjut Zainal, pupuk kompos tersebut harus lebih dulu difermentasi selama 30 hari. Setelah proses fermentasi selesai, kompos tersebut akan dicampur dengan agens hayati trichoderma. Stater trichoderma ini merupakan hasil olahan sendiri.

Adapun tehnik pembuatannya bisa dilakukan melalui media buah kelapa yang sudah tua, dan aronan nasi yang dimasukkan ke dalam bumbung bambu. Kedua media tersebut ditaruh di bawah pohon bambu untuk memancing jamur trichoderma yang ada di alam.

BACA :  Tipu-Tipu Gandakan Uang, Darsak Gasak Rp80 juta

Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Penengahan, Syafruddin, mengapresiasi langkah kelompok tani Rajabasa. Menurut dia, pupuk kompos yang satu ini sangat berguna. Syafruddin menjelaskan fungsi dari trichoderma tersebut untuk pengendalian secara ramah lingkungan.

“Tepatnya pengendalian penyakit layu fusarium, dan layu bakteri pada tanaman cabai, jahe, dan pisang,” katanya.

Desa Waykalam, lanjut Syafruddin, telah menjadi salah satu desa sentra tanaman cabai. Dalam hak ini cabai rawit, serta kedua komoditi lainnya. Untuk luasan tanaman cabai rawit di desa ini sekitar 20 hektar, tanaman jahe 50 hektar, dan tanaman pisang 750 hektar. (rnd)