Kagumi Marsinah Sebagai Pejuang Buruh

891
Nama : Lidyasari TTL : Teluk Betung Selatan 23 Januari 1997 Goldar : B Hoby : Travelling Cita-cita : Menjadi akuntan profesional Status : Mahasiswa semester VI Jurusan Akutansi Unila

1 Mei merupakan peringatan hari buruh sedunia atau May Day. Di Indonesia, jika bicara buruh maka akan muncul nama Marsinah yang dikenal sebagai salah satu pejuang hak-hak buruh dimasa orde baru.

Sosok Marsinah memang tak se-mentereng pahlawan nasional. Namun wanita yang satu ini diyakini sebagai pengubah nasib buruh di seluruh Indonesia dengan kegigihannya memperjuangkan kesejahteraan buruh.

Dimata Lidyasari, salah seorang Mahasiswi Universitas Lampung (Unila) asal Dusun Penengahan Pios, Desa Buahberak, Kecamatan Kalianda ini, perjuangan Marsinah merepresentasi bagaimana keberanian perempuan itu. “Kalau melihat bagaimana sulitnya perjuangan Marsinah, seharusnya buruh tak lagi bermalas-malasan,” kata Lidyasari kepada Radar Lamsel, kemarin.

Lidya, begitu panggilannya tak ragu mengungkapkan kekaguman pada sosok Marsinah asal Nganjuk Jawa Timur yang meninggal pada 8 Mei 1993 silam. Dikalangan mahasiswa, sambung Lidya, acap kali digelar teaterikal yang mengangkat kisah perjuangan perempuan tersebut hingga sepak terjang Marsinah lebih dikenal dikalangan pelajar dan Mahasiswa ketimbang masyarakat pada umumnya.

“Memang pada masa silam, buruh di Indonesia kerap kesulitan untuk urusan kesejahteraan. Tidak seperti sekarang kehidupan buruh sudah terjamin dan hampir setiap tahun ada kenaikan gaji,” ujar Anggota Himpunan Mahasiswa Akutansi (Himakta) Unila ini.

Bahkan Motivasi Lidyasari melanjutkan kuliah hampir-hampir mirip dengan apa yang digalakkan Marsinah. Lidya berharap dengan menempuh pendidikan dirinya kelak mendapat pekerjaan yang layak dan bisa mensejahterakan keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Lebih lanjut puteri kelima dari pasangan Sarfin Aziz, S.E dan Misrihayati, S.Pd ini mengatakan, perjuangan tersebut sejatinya harus diiringi dengan rasa syukur bagi para buruh. Sebab, tanpa adanya sejarah dimasa lalu tidak ada yang menjamin kesejahteraan buruh.

Gadis kelahiran Teluk Betung 1997 itu berharap, peran perempuan pasca era R.A Kartini hingga Marsinah harus menjadi simbol semangat dikalangan perempuan. Baik dalam pekerjaan, kehidupan hingga kodrat perempuan itu sendiri.

“Orientasi perempuan dikehidupan nyata harus diutamakan, apalagi Demokrasi yang mengedepankan emansipasi wanita. Jadi jangan ragu untuk berpengaruh bagi orang disekitar kita, happy may day,” terangnya.

Nah, Lidyasari tak canggung mengekspresikan sosok yang dikaguminya tepat di hari buruh sedunia. Sekarang bagaiman makna hari buruh bagi kamu?. (ver)