Kaligrafi Salah Dicopot dari Masjid Agung Kalianda

629
Veridial – Kaligrafi bertuliskan ‘basmalah’ yang salah dalam penulisan telah dicopot dari areal Masjid Agung Kalianda, Senin (1/4) kemarin.

BMS Sebut Masih Tanggungjawab Rekanan

KALIANDA – Kaligrafi bertuliskan ‘basmalah’ yang salah dalam penulisan akhirnya resmi dicopot dari Masjid Agung Kalianda. Kaligrafi tersebut rencananya bakal dipajang kembali setelah diperbaiki.

Kepala Bina Mental dan Spiritual (BMS) Lampung Selatan, A. Kholil mengamini kesalahan dalam penulisan kaligrafi tersebut. Ia juga menegaskan bahwa hal itu murni tanggungjawab rekanan yang kurang awas dalam mengerjakan tulisan tersebut.

“ Iya, memang betul terdapat tiga kesalahan dalam penulisannya, karena itu kami langsung kroscek dan langsung dicopot untuk dibenarkan. Ini kan masih tanggungjawab rekanan soal pengerjaannya,” kata Kholil kepada Radar Lamsel di Masjid Agung Kalianda, Senin (1/4).

Kholil mengatakan hal ini mesti segera dibenarkan dan jangan dibiarkan saja. Sebab kekurangan huruf atau salah huruf dalam penulisan huruf arab bisa mengakibatkan salah arti.

“ Kalau kurang huruf dan salah huruf ya potensi salah arti juga, apalagi ini bahasa arab yang punya kaidah-kaidah dalam teknik penulisan kho (kaligrafi ‘red),” sebut Kholil.

Masih kata Kholil, evaluasi publik dalam hal ini membantu meluruskan. Meski sejatinya tanggungjawab terkait pengerjaan berada dibawah wewenang Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“ Memang harus orang yang teliti untuk meluruskan hal-hal demikian. Namun untuk kewenangan perbaikan pasca rehab yang masih dalam masa perawatan ini leading sektornya adalah DPUPR,” terangnya.

BACA :  Aktifkan Kader Jumantik Siasati DBD

Senada dengan Kholil, Camat Kalianda Erdiansyah usai berjama’ah shalat ashar mengatakan bila dilihat dan dicermati secara teliti tulisan kaligrafi itu memang terdapat kekeliruan.

“ Secara kaidah penulisan memang tidak sesuai dalam istilah khot, itu kalau dicermati dengan seksama,” ujar Koordinator Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).

Menanggapi itu, Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Lampung Selatan, Juanda Naim berharap hal ini menjadi evaluasi bersama agar tidak terulang dikemudian hari.

“ Ya, justru kita tahu dari wartawan kalau tulisan ‘basmalah’ yang baru dipasang itu salah. Kedepan perlu ada koordinasi antar lembaga supaya kesalahan semacam ini tidak perlu terjadi lagi,” ujar Juanda, ditemui di Kemenag Lamsel.

Orang nomor satu di Kemenag Lamsel itu mengapresiasi langkah cepat menurunkan tulisan tersebut. Sebab dari kacamata intelektual hal itu tidak patut terjadi apalagi Masjid Agung Kalianda sebagai wajah religius Lampung Selatan.

“ Sudah bagus, artinya semua cepat tanggap untuk sama-sama meluruskan. Kami tidak tahu karena memang tidak berkoordinasi, kalau tulisan itu diperiksa sebelum dipajang mungkin kejadiannya tidak begini. Ini kita jadikan sebagai behan pembelajaran untuk masa mendatang,” tandasnya.

BACA :  13 PAC Muslimat NU Lamsel di Lantik

Diberitakan sebelumnya, ribut-ribut masalah kekeliruan kaligrafi tersebut pertama kali dipublish dalam unggahan facebook oleh salah seorang jama’ah usai sholat di eks Masjid Kubah Intan Kalianda itu.

Postingan tersebut sudah dibagikan puluhan kali serta menuai respon dari netizen yang sebagian besar menyebut terdapat kekeliruan dalam penulisan basmalah yang dipajang di masjid yang kini dinamai Masjid Agung Kalianda.

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Kebangsaan, Agus Amriza S.Pd.I  mengatakan gaya tulisan basmalah yang dipajang itu sejatinya tidak ada dalam kaidah penulisan khot atau kaligrafi arab. Melainkan hasil kreasi sendiri.

“ Sebetulnya berkreasi sendiri pun sah-sah saja, namun kalau salah begini akan menjadi fatal dan sangat disayangkan karena kelalaian pihak terkait karena tidak terdapat huruf alif pada kata ‘arrahman dan arrahiim’,” ujar Agus Amriza.

Lebih jauh jebolan Universitas Darussalam (Unida) Gontor Ponorogo itu menerangkan ketika alifnya hilang maka bacaan pun akan berubah menjad ‘li rahmanin li rahimin’ apalagi huruf tersebut tidak berharokat.

“Sehingga artinya pun menjadi ‘dengan nama Allah untuk maha pengasih dan maha penyayang. Maka apakah ada di dunia ini yang menyandang maha pengasih lagi maha penyayang kecuali Allah?. Maka ini harus segera diperbaiki,” ucapnya. (ver)

BAGIKAN