Kampung Baru ‘Kaji Banding’ ke Dua Desa

29
Randi Pratama - Aparatu Desa Kampung Baru, dan Aparatur Desa Kecapi saat melaksanakan sharing dan hearing bersama di balai desa Kecapi, Rabu (16/9/2020).

Berusaha Maksimalkan Pelayanan

PENENGAHAN – Aparatur Desa Kampung Baru terus berupaya memaksimalkan kinerja mereka sebagai pelayan masyarakat. Hal ini dibuktikan melalui kegiatan yang disebut ‘Kaji Banding’ ke desa-desa lain. Rabu (16/9/2020), Aparatur Desa Kampung Baru mengunjungi desa Banjarmasin, kecamatan Penengahan, dan desa Kecapi, kecamatan Kalianda.

Kunjungan mereka ke dua desa ini untuk mempelajari sistem pelayanan masyarakat yang belum diterapkan di desa Kampung Baru. Kajian pertama adalah jadwal piket aparatur desa. Di Kampung Baru sendiri jadwal piket dilaksanakan selama 5 hari jam kerja, hanya saja aparatur yang berjaga berjumlah 3 orang. Sedangkan di desa Kecapi selama 5 hari kerja selalu diisi full oleh aparatur.

Sama halnya dengan desa Banjarmasin, yang menerapkan pola serupa. Hal inilah yang akan dijadikan perbandingan oleh desa Kampung Baru. Sebab, aparatur desanya mengakui selama ini pelayanan di kantor desa kurang maksimal karena hanya ada 3 aparatur yang berjaga. Kurangnya pelayanan karena aparatur mereka terbentur dengan pekerjaan lain.

BACA :  Ditlin Kementan Minta Petani RTL

Tidak dipungkiri jika beberapa Aparatur Desa Kampung ada yang berprofesi sebagai petani, dan profesi lain. Persoalan ini yang berusaha dipecahkan oleh pemerintah desa. Bagaimana caranya pelayanan mereka tetap maksimal. Menjalin komunikasi lewat silaturahmi yang berisi sharing dan hearing terkait kinerja aparat desa, dan saling bertukar pengalaman terkait pelaksanaan pemerintahan di desa.

“Karena itu mengajak seluruh aparatur desa berkunjung ke desa Kecapi, dan Banjarmasin,” kata Sekretaris Desa Kampung Baru, Dodi Prasetyo, A.Md kepada Radar Lamsel.

Dodi mengatakan bahwa tujuan utama pihaknya berkunjung ke dua desa tersebut untuk menambah pengalaman. Sekaligus mencontoh sistem pelayanan terbaik yang bisa diberikan kepada masyarakat. Selama ini, Dodi mengakui jika aparatur desanya tidak bisa bekerja maksimal karena beberapa persoalan. Tetapi, dia mencoba mendoktrin aparatur desanya bekerja lebih baik dengan melihat cara kerja aparatur desa lain.

BACA :  Bocah Pengidap Ginjal Bocor Disambangi Forkopimcam

“Kami akui memang sulit, tapi kami berusaha memberi tahu kepada rekan-rekan. Bahwa seperti itukah seharusnya tugas aparatur desa yang wajib dijalankan,” katanya.

Pria berkacamata ini mengakui jika desanya tidak mungkin bisa memberikan pelayanan yang sempurna. Tetapi, hal itu bukan berarti juga desa selalu memberikan pelayanan yang buruk. Dodi mengatakan aparatur desanya siap menerima kritik dan saran apabila hal itu ditujukan demi kemajuan desa Kampung Baru.

“Memang sulit merubah stigma seseorang. Tapi sekali lagi, kami akan mencoba memperbaikinya demi kemajuan desa,” katanya. (rnd)