Kepsek MAN 1 Kalianda Didemo Ratusan Siswa

1603
Iwan J Sastra – Ratusan siswa-siswi MAN 1 Kalianda, menggelar aksi ujuk rasa di sekolah setempat. Mereka menuntut ketransparanan dana komite sekolah, Senin (10/10) kemarin.

KALIANDA – Ratusan siswa Madrasyah Aliayah Negeri (MAN) 1 Kalianda menggelar aksi unjuk rasa di sekolah mereka Senin (10/10) pagi.

Mereka menuntut Kepala MAN 1 Kalianda Drs. Zulkifli untuk mundur dari jabatannya jika tidak merealisasikan sejumlah tuntutan yang diajukan oleh ratusan siswa dalam aksi ujuk rasa kemarin.

Koordinator Aksi Slamet Riyadi menuturkan, ia bersama kawan-kawannya menggelar aksi unjuk rasa di sekolah tujuannya untuk mempertanyakan penggunaan dana komite yang dibayarkan para siswa selama ini.

Dia mempertanyakan bukti konkret penggunaan dana komite yang peruntukannya untuk pembangunan berbagai sarana dan fasilitas sekolah. Sebab, faktanya sarana dan prasarana yang ada di sekolah seperti tidak terawat dan kurang mendapatkan perhatian dari pihak sekolah.

“Kemana dana komite yang kami bayar. Katanya untuk pembangunan berbagai fasilitas sekolah, tapi buktinya mana. Lihat ruang kelas yang kami gunakan untuk belajar saja terlihat kumuh tidak ada kaca jendela, begitu juga dengan bangunan mushola sekolah yang sampai saat ini tidak memiliki pintu dan jendela. Padahal  dana pembangunannya hasil dari sumbangan para siswa,” ujar Slamet Riyadi saat berorasi di depan ruang Kantor Kepsek MAN 1 Kalianda.

Diungkapkannya, selama dua tahun sejak dipimpin oleh Kepsek Zulkifili, MAN 1 Kalianda tidak menunjukan adanya perubahan. Bahkan, untuk kegiatan ekskul siswa saja, kepala sekolah kurang begitu mendukung apalagi memperhatikan.

“Kami sudah dua kali meraih juara dalam lomba futsal baik tingkat kabupaten maupun provinsi. Tapi untuk mengikuti kegiatan tersebut kami sesama siswa sumbangan, karena pihak sekolah tidak memberikan bantuan sepeserpun,” ungkapnya.

Selain itu, untuk keberlangsungan jalannya program kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) disekolah, anggota PMR rela berjualan keripik untuk membeli obat-obatan guna melengkapi kebutuhan obat-obatan di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

“Bayangkan saja diruang UKS obat-obatanya tidak lengkap. Padahal dana untuk jaminan kesehatan siswa sudah dianggarkan. Tapi nyatanya mana?, tidak pernah direalisasikan. Oleh karena itu, anggota PMR rela untuk berjualan keripik supaya bisa membeli obat-obatan,” terangnya.

Oleh karena itu, lanjut Slamet Riyadi, kami seluruh siswa menuntut ketransparanan kepala sekolah dalam mengelola anggaran sekolah. Sebab dana yang dibayarkan para siswa belum tentu semuanya diperoleh dengan mudah, tetapi banyak orang tua siswa yang berhutang.

“Kami minta kepala sekolah harus bisa merealisasikan tuntutan kami. Jika tidak terlaksana, maka kami minta kepala sekolah untuk mundur dari jabtannya. Kami tidak butuh pemimpin yang cuma hanya bisa berjanji, tetapi bukti dan kenyataan. Agar sekolah ini (MAN Kalianda, red) benar-benar maju dan ada perubahan,” ucapnya.

“Jika tuntutan kami tidak dapat diindahkan oleh kepala sekolah, kami semua siswa akan melakukan mogok belajar sampai tuntutan kami direalisasikan,” tegasnya.

Sementara itu Kepala MAN 1 Kalianda Zulkifli menegaskan, terkait dana pembangunan mushola sekolah, itu ia tidak tahu-menahu. Sebab, saat dirinya menjabat sebagai kepala sekolah bangunan mushola tersebut memang sudah ada.

“Soal bangunan mushola saya memang tidak tahu mas. Sebab mushola itu dibangunnya dari sebelum saya menjabat sebagai kepala sekolah di sini,” jelasnya.

Dikatakannya, ia akan berupaya memenuhi semua tuntutan para siswa/i nya. Namun, semua itu membutuhkan proses dan melihat anggaran sekolah yang ada. Sebab, untuk memenuhi berbagai sarana dan prasarana sekolah itu tidak sedikit dana yang harus dikeluarkan. Sementara, anggaran komite yang diperoleh dari sumbangan siswa hanya cukup untuk memenuhi kegiatan yang sifatnya mendesak.

Ya nanti kita bahas bersama-sama untuk mencarikan solusi terbaik, agar permasalahan ini bisa cepat selesai. Meski saya tidak berjanji, namun tuntutan para siswa akan diupayakan untuk direalisasikan. Tapi itu tidak mudah, harus melalui sebuah proses serta melihat dana sekolah yang ada,” pungkasnya. (iwn)