Kondisi Jalinsum Tarahan jadi Atensi

158
Shofyan Apriyansyah – Lima armada ambulance RSUD Bob Bazar, SKM Kalianda, yang jumlahnya dinilai tidak cukup ideal, disiagakan untuk melayani masyarakat, Selasa (21/1).

RSUD Bob Bazar Tak Punya AGD 118 !

KALIANDA – Buruknya kualitas badan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) di Desa Tarahan, Kecamatan Katibung, banyak menyebabkan kecelakaan. Terbaru, kecelakaan hebat yang terjadi di jalan itu menewaskan 4 orang. Daftar tersebut semakin menambah citra buruk jika jalan di Tarahan membahayakan.

Data yang dihimpun Radar Lamsel, pada 2019 lalu, ada dua kecelakaan hebat yang terjadi di Tarahan. Peristiwa naas ini terjadi pada 25 September 2019 lalu, tepatnya di KM 21 -22 Tanjakan Tarahan. Tiga orang pengendara motor tewas. Kemudian pada 27 Oktober 2019, kecelakaan di jalan ini kembali merenggut nyawa 1 keluarga.

Satuan Lalu Lintas Polres Lamsel yang menangani peristiwa itu menyebut jika kondisi jalan yang menyebabkan kecelakaan itu memiliki permukaan aspal yang rusak, dan bergelombang. Selain itu, kondisi jalannya juga menurun, kemudian menikung ke kiri menuju ke arah Kota Bandarlampung.

Radar Lamsel mengonfirmasi Dinas Perhubungan Kabupaten Lampung Selatan mengenai kerusakan jalan, dan perlunya rambu-rambu tambahan di Jalinsum Desa Tarahan. Dishub Lamsel menegaskan bahwa Jalinsum berstatus jalan nasional. Artinya perbaikan dan segala hal yang menyangkut jalan itu berhubungan langsung dengan pemerintah pusat.

“Tapi untuk imbauan, nanti kami koordinasikan. Karena statusnya jalan negara, kewenangan pusat,” kata Kadishub Lamsel, Ir. Mulyadi Saleh.

BACA :  CJH Tunggu Instruksi Kemenkes

Hubungan dengan Dishub Provinsi Lampung untuk pemasangan rambu-rambu, kemudian kondisi jalan Tarahan yang rusak bisa saja dikoordinasikan. Sebab, banyak kecelakaan di Tarahan yang sudah menelan korban jiwa. Baik karena teknis maupun non teknis. Mulyadi menyebut hal itu akan ditindaklanjuti.

“Kita koordinasikan dengan balai pusat dan Dishub Lampung. Langkah itu sudah kita lakukan. Tanggapan mereka juga baik, mereka akan menindaklanjuti,” katanya.

Disisi lain, belum adanya fasilitas Ambulance Gawat Darurat (AGD) 118 di RSUD Bob Bazar, SKM Kalianda, menyebabkan penanganan tindak penyelamatan korban kecelakaan lalulintas di wilayah Lampung Selatan, belum maksimal.

Sebab, armada ambulance yang tersedia di Rumah Sakit plat merah ini hanya bersifat mengantar dan menjemput pasien atau korban Lakalantas untuk di evakuasi menuju rumah sakit, tak lebih.  Itupun, dari sembilan armada hanya lima yang siap beroperasi.

Keterbatasan sarana penunjang AGD 118 ini berdampak terhadap penanganan Lakalantas di wilayah Lampung Selatan yang membutuhkan penanganan khusus.

Itu diungkap Koordinator Kendaraan Ambulance RSUD Bob Bazar, Ridwan. Ia menjelaskan kendaraan AGD 118 memiliki fasilitas penunjang yang memungkinkan untuk upaya pertolongan pertama kepada korban Lakalantas oleh petugas medis dilokasi peristiwa Lakalantas.

“ Dimana, kendaraan AGD 118 dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai untuk melakukan tindakan pertolongan penyelamatan dengan tindakan medis yang sifatnya mendesak sewaktu-waktu di butuhkan di lokasi terjadinya peristiwa Lakalantas,” jelas Ridwan, mewakili Dirut RSUD Bob Bazar, dr. Media Apriliana, Selasa (21/1).

BACA :  Bantuan Beras Tahap II untuk 24.941 Masyarakat Terdampak Covid-19

Setahun lalu pihak RSUD Bob Bazar pernah mengajukan usulan penambahan sarana dan prasarana kesehatan yakni fasilitas pelayanan medis AGD 118 beserta tenaga ahli kepada pemerintah pusat.“ Namun usulan tersebut urung terealisasi hingga hari ini,” kata Ridwan.

Meski begitu, sambung petugas yang menangani oprasional Ambulance di rumah sakit kebangga masyarakat khagom mufakat ini, pihaknya akan menyampaikan hal ini kepada pimpinan tertinggi di jajaran rumah sakit umum daerah berplat merah itu.

“ Terkait fasilitas AGD 118 yang belum ada di rumah sakit ini, kami akan sampaikan dan mengusulkannya kembali kepada pimpinan. Sebab,Keberadaannya sangat dibutuhkan. Utamanya dalam upaya pertolongan penyelamatan kepada korban Lakalantas di TKP. Sehingga, menekan angka kematian pada korban Lakalantas akibat terlambat dilakukannya tindakan pertolongan di TKP dapat dilakukan,” kata Ridwan lagi.

Untuk diketahui, dari sembilan hanya lima ambulance yang siap beroperasi. Sisanya dalam kondisi berkarat dengan tempat duduk yang rusak kurang laik. (rnd/CW2)