Memberikan Teladan, Menunjukkan Ketegasan

779

Oleh : Edy Setiawan

Ada yang berbeda saat melaksanakan ibadah sholat jum’at di Mesjid Agung Kalianda pekan lalu. Usai sholat, Bupati Lampung Selatan Zainuddin Hasan menyerukan umat Islam khususnya PNS dilingkungan pemkab Lamsel untuk memakmurkan Mesjid Agung Kalianda.

Bagi saya, tidak biasanya seorang bupati berpidato usai sholat jum’at, kecuali pada perayaan hari-hari besar umat Islam. Karena itu, begitu Zainuddin memulai pidatonya, sungguh saya simak baik-baik apa yang akan disampaikan.
Pidato Zainuddin dihadapan ratusan jemaah sholat jum’at berisi kekhawatiran dan kecemasan terhadap kondisi Mesjid kebanggaan masyarakat Islam di Kalianda. Selain kumuh dan kotor, areal mesjid justru menjadi tempat mesum bagi pasangan yang tidak memiliki iman dan ahlak. “Karena itu dikesempatan dan dirumah Allah yang mulia ini, saya menghimbau dan mengajak umat Islam untuk memperbaiki kondisi dan suasana di Mesjid Agung Kalianda ini,” kata Zainuddin sebagai pengantar pembuka pidatonya.

Sampai dikalimat ini, belum ada yang menarik perhatian saya sebagai salah seorang jemaah yang mendengarkan pidatonya, tetapi ketika ia menggunakan kalimat himbauan kepada seluruh PNS dilingkungan Pemkab Lamsel yang beragama Islam, telinga saya langsung saya buka lebar-lebar.
Inti dari Pidato Zainuddin adalah menghimbau kepada seluruh pejabat dilingkungan pemkab Lamsel untuk menyalurkan sumbangan demi memakmurkan mesjid Agung Kalianda. Sumbangan ditetapkan olehnya dengan nominal berbeda berdasarkan pangkat dan jabatan. Selain sumbangan, dirinya juga berencana merestrukturisasi pengurus mesjid Agung Kalianda dan Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) Lamsel.

BACA :  Hipni Terganjal Melin

Dalam persepsi saya, himbauan yang disampaikan oleh Zainuddin adalah sebuah bentuk kewajiban atau keharusan yang dijalankan para pejabat Lamsel. Mengapa?, karena Zainuddin langsung menyebut nominal 8 digit angka kepada pejabat eselon II dan 6 digit angka untuk pejabat eselon IV. Kemudian, dengan cara halus Zainuddin akan memberikan catatan kepada pejabat yang tidak melaksanakan himbauannya. Dia juga mengajak jemaah lain yang berprofesi berbeda untuk melakukan tindakan serupa.Jadi himbauan yang disampaikan Zainuddin ini adalah sebuah bentuk ketegasan dari seorang pemimpin kabupaten kepada bawahannya juga kepada masyarakat yang dipimpinnya.
Tidak hanya sebatas itu, Zainuddin juga memberikan teladan dalam pidatonya. Menurutnya, kalau seorang pemimpin menghimbau bawahannya tetapi dirinya sendiri tidak mengawalinya, itu artinya dirinya adalah seorang pemimpin yang salah. kemudian ia sebutkan nominal 8 digit angka yang telah disumbangkannya untuk program memakmurkan mesjid Agung Kalianda.

BACA :  Bantuan Stimulus Listrik Diperpanjang hingga Desember

Langkah-langkah memakmurkan mesjid juga ia sampaikan. Dalam waktu dekat akan dilaksanakan perbaikan pagar keliling mesjid, telah menempatkan personil Polisi Pamong Praja dengan menggunakan 3 shift penjagaan, dan meminta pengurus mesjid untuk memperbanyak kegiatan-kegiatan ke-Islaman. Ia juga meminta agar pintu mesjid dibuka seluas-luasnya bagi umat yang ingin melaksanakan ibadah sholat dan mengusir keluar bagi mereka yang mengunakan pakaian yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam.

Saya sendiri bukan bermaksud untuk memujinya, tetapi apa yang dilakukan oleh Zainuddin sebagai seorang pemimpin adalah sebuah bentuk keharusan. Beginilah seharusnya pemimpin berbuat dan bertindak. Disatu sisi ia memberikan teladan, disisi lain ia menunjukkan ketegasan. Dan yang dipimpin harusnya ikhlas dan berharap surga dari apa yang dikeluarkannya untuk memakmurkan mesjid. Jadi, jangan hanya ikhlas dan bersedia urunan ketika berencana rapat koordinasi diluar daerah dengan membawa keluarganya. Rapatnya sejam-dua jam, liburannya sampai akhir pekan.
saya termotivasi untuk menulis ini agar semakin banyak yang tahu bahwa sedang ada program memakmurkan mesjid agung Kalianda.Dengan harapan, semakin banyak yang membaca, maka semakin banyak yang menyumbang. Aamiin.