Mencla-mencle PT. CAP

257
Ilustrasi Lalat

PENENGAHAN – Setiap perusahaan yang memberikan dampak negatif terhadap desa di sekelilingnya, minimal harus melakukan langkahnya agar tak terjadi hal-hal yang menjurus negatif. Tetapi, langkah ini tak dilaksanakan oleh manajemen PT. CAP. Meski wilayah administrasinya terletak di Desa Penengahan, nyatanya perusahaannya ternak ayam ini malah memberi dampak buruk terhadap Desa Tetaan. Wilayah yang terkena imbas dari aktivitas bongkar mandar perusahaan ini.

Warga Desa Tetaan harus rela pemukiman mereka dihinggapi banyak lalat. Sialnya, manajemen perusahaan tak sekali pun menyadari kondisi itu. Bahkan, pihak perusahaan terkesan abai dengan hama pembawa penyakit ke makanan tersebut. Warga Desa Tetaan pun merasa amat tak betah dengan kedatangan rombongan lalat ke sekitar pemukiman, bahkan masuk ke dalam rumah mereka.

Berbagai keluhan pun keluar dari mulut warga desa ini. Meski mulut warga telah berbusa menyatakan tak betah, nyatanya pihak PT. CAP tetap saja abai. Sudah sepekan berlalu sejak kedatangan lalat-lalat itu. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda kepedulian yang ditunjukkan pihak perusahaan. Senin (20/5) lalu, Radar Lamsel sempat mengonfirmasi masalah lalat itu kepada Yuke, selaku manager PT. CAP. Tapi respons dari Yuke tak menunjukkan bahwa manajemennya peduli.

BACA :  55 CJH Sudah Diberi Pembinaan

Ketika Radar Lamsel menanyakan solusi untuk membasmi lalat-lalat itu, Yuke malah balik bertanya tentang hal lain. Yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan antara warga dengan lalat-lalat ramah itu. Radar Lamsel juga mengajak Yuke bertemu, tapi yang bersangkutan terkesan enggan menanggapi. Ketika dikonfirmasi pertama kali pada Jumat (17/5) pekan lalu, Yuke malah tak menunjukkan sikap profesional sebagai pemimpin perusahaan besar. Ia memblokir nomor wartawan Radar Lamsel sampai detik ini.

BACA :  Inovasi Stater Agens Hayati Buatan Petani

Meski demikian, warga Desa Tetaan tetap meminta pihak PT. CAP bertanggungjawab atas banyaknya lalat yang hinggap di pemukiman mereka. Warga menilai seharusnya pihak perusahaan bersikap sportif, dan mengatasi persoalan yang ditimbulkan oleh manajemen perusahaan sendiri.

“Jangan gara-gara aktivitas perusahaan, mereka yang untung, kami yang rugi. Kalau seperti ini kami merasa tak dianggap sama sekali,” kata Ari (29) kepada Radar Lamsel, Selasa (21/5) kemarin.

Hasan (40), warga lainnya mengatakan sebagai warga yang menjadi korban lalat PT. CAP, Ia meminta pihak perusahaan segera bertindak bijak. Jika tidak, Hasan mengatakan tidak menutup kemungkinan warga akan melakukan tindakan atau hal-hal yang tidak diinginkan.

“Ya perusahaan pasti tahulah bagaimana solusinya. Gimana-gimananya kan mereka yang ngerti. Supaya masyarakat tidak anarkis, supaya tidak terjadi ya tahulah, kami punya rasa sabar,” katanya. (rnd)