MGMP Perluas Wawasan

1003
Foto Nazirin - Tampak para guru SMA/SMK yang tergabung dalam MGMP, mengikuti kegiatan di komplek SMK Muhammadiyah Gedongtataan.

GEDONGTATAAN – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), di komplek SMK Muhammadiyah Gedongtataan, menjadi ajang perpisahan antara Dinas Pendidikan Kabupaten Pesawaran dengan guru SMA/SMK kabupaten setempat.

“Per 1 Januari 2017, wewenang Dikmen (Pendidikan Menengah) menjadi milik provinsi. Sehingga, guru-guru yang ada di sini otomatis menjadi pegawai provinsi,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pesawaran Sabani, Sabtu (29/10).
Mantan Camat Waylima itu menambahkan, bahwa sebenarnya pada 1 November 2016, wewenang itu sudah berlaku. Namun, karena suratnya belum ada maka Dikmen masih menjadi tanggung jawab kabupaten. “Sampai, seragam pun menjadi wewenang provinsi. Untuk itu, nantinya atribut guru menengah atas berlogo provinsi,” kata dia.

Sabani juga menjelaskan sampai Desember 2016, dia sudah 36 bulan bersama guru menengah atas membangun mutu pendidikan di Kabupaten Pesawaran. Dan diharapkan, seluruh guru harus menjaga kompetensi dan meningkatkan pengetahuan.

“Sehingga, kita laksanakan MGMP ini. Serta, pesan saya jalankan 5 L. Yaitu, luruskan niat dalam mengajar, loyal pada profesi, lincah menjalankan tugas, lemah lembut kepada siswa, dan Lillahitaalla serta ikhlas,” jelasnya.
Sementara, ketua pelaksana kegiatan Jayadi Yasa, dalam MGMP. Yakni dalam peningkatkan mutu pendidikan guna mewujudkan pelayanan pendidikan yang berkualitas merupakan prioritas utama dalam menjalankan visi Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona.

“Dan, itu harus dikerjakan secara bersama-sama antara dinas dan seluruh pendidik yang ada di kabupaten setempat,” ujar Jayadi.
Lebih lanjut Kabid Pendidikan Menengah, Dinas Pendidikan Kabupaten Pesawaran itu, mengatakan, bahwa pertemuan MGMP guna memperluas wawasan guru dalam berbagai hal. Seperti penyusunan dan pengembangan silabus, peningkatan pembelajaran yang sesuai standar, mengembangkan kegiatan monitoring dari guru senior ke junior.

“Musyawarah ini melibatkan guru delapan mata pelajaran. Yaitu, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, Agama Islam, Penjaskes, dan Seni Budaya,” paparnya. (Nzr)