Pandemi Tantangan Swasembada Gizi

26
Diskominfo Lamsel – Duta Swasembada Gizi Lamsel, Hj. Winarni Nanang Ermanto memberikan pemaparan pada kegiatan Rembuk Stanting yang digelar di Aula Rajabasa Kantor Bupati Lamsel, Kamis (6/5) kemarin.

KALIANDA – Berbagai upaya terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, dalam upaya pengentasan kasus stunting. Salah satunya, dengan rutin menggelar kegiatan rembuk stunting strategi konvergensi percepatan penurunan stunting melalui program penyelenggaraan swasembada gizi yang digelar di Aula Rajabasa Kantor Bupati Lamsel, Kamis (6/5) kemarin.

Bupati Lamsel, H. Nanang Ermanto dalam sambutannya membuka kegiatan tersebut menyampaikan, Lamsel merupakan salah satu dari 100 kabupaten yang menjadi prioritas dalam intervensi stunting. Ini berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013 yaitu sebesar 43,01 persen.

Dia melanjutkan, pada 2018 Hasil Riskesdas untuk prevalensi stunting di Kabupaten Lampung Selatan mengalami penurunan yaitu sebesar 29,08 persen. Hasil tersebut belum cukup menggembirakan. Sehingga masih diperlukan dukungan berbagai pihak dalam rangka percepatan penurunan stunting di kabupaten ini.

BACA :  Daftar CPNS-PPPK Jangan Salah Input!

“Untuk itu, sangat perlu kiranya kita semua menguatkan komitmen bersama sebagai dukungan untuk percepatan penurunan stunting secara lintas program maupun lintas sektor dari berbagai OPD dalam rangka mewujudkan Kabupaten Lampung Selatan Bebas Stunting di Tahun 2023 mendatang,” kata Nanang.

Sementara itu, Duta Swasembada Gizi Lampung Selatan, Hj. Winarni Nanang Ermanto mengatakan, pandemi Ccovid -19 menyebabkan terjadinya refocussing anggaran pada APBD Lampung Selatan. Oleh karenanya, anggaran sejumlah kegiatan sampai terkait stunting ikut terdampak.

“Masa pandemi Covid -19 ini menjadi kendala utama dalam kegiatan swasembada gizi. Namun, kita harus berupaya bagaimana urusan stunting ini bisa kita minimalisir,” ungkap Winarni dalam paparannya.

BACA :  Gubernur Minta Pemkab Serius PPKM Mikro

Winarni menjelaskan, sejumlah kegiatan yakni semacam pemberdayaan, pembinaan, menu pemerima manfaat sudah direncanakan. Namun, beberapa diantaranya batal terlaksana karena tersandung covid-19.

“Selain adanya pembatasan aktivitas, ada juga rencana mau buat sarana kesehatan. Tetapi, apalah daya semua itu belum bisa dilaksanakan karena anggarannya terkena refocussing,” terangnya.

Lebih lanjut dia meminta, agar seluruh pihak tidak saling menyalahkan dan menjaga ego untuk penanganan stunting ini. Karena, kondisi memang sedang tidak bisa dipaksakan.

“Tapi, hendaknya upaya untuk penurunan stunting harus dilakukan. Antara lain pelayanan posyandu harus ditingkatkan , penyediaan air bersih dan imunisasi dasar,” pungkasnya. (idh)