Pastikan Belum Ada Korban Jiwa Akibat DBD

218
Ilustrasi DBD

KALIANDA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lampung Selatan menyebutkan belum ada korban jiwa akibat wabah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di tahun 2019 ini. Pasalnya, tidak ada keterangan resmi dari fasilitas kesehatan yang berwenang mengeluarkan hasil diagnosa.

          Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Lamsel, Kristi Endarwanti menegaskan, sejauh ini tidak ada informasi lanjutan dari RSUD dr. Bob Bazar jika ada pasien yang meninggal akibat DBD. Terlebih, banyak indikasi yang mirip dengan serangan penyakit DBD dalam dunia medis.

          “Kalau memang benar DBD, biasanya rumah sakit langsung memberikan informasi kepada kami. Bisa jadi pasien rujukan itu meninggal karena serangan penyakit lain. Banyak yang harus dilalui untuk mengecek apakan pasien itu benar terserang virus DBD. Penyakit typus saja trombosit nya turun, bukan hanya DBD,” ungkap Kristi diruang kerjanya, Senin (22/4) kemarin.

          Kristi mengatakan, masyarakat hendaknya bisa langsung mendatangi fasilitas kesehatan milik pemerintah apabila menderita penyakit apapun. Karena, saat ini fasilitas kesehatan milik pemerintah sudah cukup memadai dan sangat lengkap penanganannya.

          “Informasi kemarin kan dirujuk dari klinik dokter swasta. Fasilitas kesehatan di klinik swasta di Lamsel belum lengkap. Sebenarnya, DBD itu mudah disembuhkan jika penangannya benar. Karena, virus DBD itu menyerang saat kondisi pasiennya lemah. Kalau penangannya benar dan cepat kami yakin tidak akan sampai berakibat fatal,” tegasnya.

BACA :  Polisi Lakukan Penyelidikan

          Lebih lanjut dia mengatakan, saat ini seluruh Puskesmas Rawat Inap di Lamsel telah disediakan alat tes deteksi dini DBD yang cukup akurat. Alat tersebut tergolong efektif dan sangat akurat dalam mengindikasi penyakit DBD.

          “Ada alat sejenis tespek yang memang khusus untuk DBD. Itu bantuan dari pemerintah pusat. Kalau di swasta saya rasa belum ada. Karena, harganya cukup mahal. Kami stok ke Puskesmas khusus rawat inap,” lanjutnya.

          Masih kata Kristi, saat ini tren serangan virus DBD dikatakan menurun. Sejauh ini, tercatat masih 191 warga Lamsel yang terserang penyakit DBD. Dan, sebagian besar sudah pulih setelah mendapatkan perawatan dari puskesmas maupun rumah sakit.

          “Trend nya tiga tahun terakhir Desember, Januari, Februari melonjak dan Maret, April mulai menurun. Tapi, kita tetap terus mengantisipasi melalui kader yang ada di desa. Kami minta, pemantauan melalui program 1R1J bisa dijalankan,” tukasnya.

BACA :  Lamsel Masuk Kawasan Kluster Budidaya Udang

          Terpisah, Direktur RSUD dr. Bob Bazar, dr. Diah Anjarini mengatakan, tidak ada pasien DBD yang meninggal dunia di rumah sakit yang ia pimpin. “Mungkin yang kemarin baru dirujuk dan belum sempat keluar hasil laboratorium. Jadi, kita juga tidak bisa menyebut DBD,” pungkasnya.

          Sebelumnya pernah diberitakan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lampung Selatan bisa dibilang kecolongan dalam mengantisipasi wabah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di tahun 2019. Pasalnya, satu orang dikabarkan meninggal dunia akibat penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti ini.

          Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Lamsel, warga yang menjadi korban wabah DBD adalah Akila (9). Warga Desa Sidoasih, Kecamatan Ketapang ini meninggal saat menjalani perawatan sekitar sepekan lalu. Korban sebelumnya dinyatakan positif DBD setelah mendapat perawatan di klinik dokter di daerah Desa Pematang Pasir. Lalu, korban di rujuk ke RSUD Bob Bazar, SKM Kalianda untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut sebelum dinyatakan meninggal dunia. (idh)