Pemanfaatan Limbah Jerami di Palas Masih Rendah

63
David Zulkarnain – Replikasi inovasi desa yang digelar oleh TPID Kecamatan Palas, Kamis (31/10). Dalam Kesempatan tersebut Plt. Kepala UPT Kesehatan Hewan Kecamatan Palas-Sragi, Iwan Ismunanto menyebutkan pengunaan limbah jerami sebagai pakan ternak di Kecamatan Palas masih rendah.

PALAS – Pemanfaatan limbah jerami sebagai pakan altrenatif di Kecamatan Palas masih sangat rendah. Padahal pemanfaatan jerami ini dinilai mampu menggantikan pakan rumput pada saat musim kemarau.

          Dari sekitar 1000 peternak sapi di Kecamatan Palas, hingga saat ini baru sekitar 10 persen peternak yang sudah menggunakan jerami sebagai pakan alternatif, itu pun tanpa melalu proses fermentasi atau amolase.

          Padahal dengan memiliki lahan persawahan 7.200 hektar,  potensi limbah jerami yang begitu besar bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak pakan ternak alternatif disaat musim kemarau.

          Hal itu utarakan Plt. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesehatan Hewan Kecamatan Palas – Sragi, Iwan Ismunanto pada saat menghadiri Replikasi Inovasi Desa di Aula Kantor Kecamatan Palas, Kamis (31/10).

          Iwan menerangkan, selama musim kemarau berlansung rata-rata peternak sapi di Kecamatan Palas mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pakan. Para peternak hanya memberikan pakan sapi alakadarnya, karena kesulitan mencari pakan rumput.

          “Kalau saat musim kemarau ini bisa kita lihat sapi para peternak mengalami penurunan bobot timbangan. Hal ini disebabkan peternak hanya memberikan pakan seadanya, karena mencari rumput susah,” ujar Iwan kepada Radar Lamsel disela kegiatan tersebut.

          Iwan mengatakan, permasalahan kesulitan mencari pakan ternak ini seharusnya tidak terjadi di Kecamatan Palas yang memilik lahan persawahan seluas 7.200 hektar ini. Potensi limbah jerami yang begitu besar bisa dimanfaatkan sebagai pakan alternatif untuk mengganti rumput dimusim kemarau.

          “Harusnya ini tidak terjadi. Peternak bisa mengolah jerami untuk difermentase atau diamolase  sebagai pakan alternatif  yang tidak kalah bernutrisi dari pakan rumput,” jelasnya.

          Saat ini, lanjut Iwan dari sekitar 1000 peternak sapi yang ada di Kecamatan Palas hanya 10 persen yang sudah memanfaatkan jarami sebagai pakan alternatif.

          Namun pemberian pakan jerami itu tanpa dilakukan proses fermentasi atau diamolase. Sehingga jerami yang diberikan hanya berfungsi untuk mengenyangkan hewan ternak, namun rendah nutrisi.

          “Seharusnya ada proses fermentasi dulu sehingga ada penambahan nutrisi pada jerami yang dijadikan pakan. Tetapi saat ini pemakaian jerami masih diberikan langsung yang hanya berfungsi mengenyangkan sapi,” terangnya.

          Iwan berharap, dengan adanya Inovasi Desa ini diharapkan pemanfaatan limbah jerami sebagai pakan ternak di Kecamatan Palas akan meningkat.

          “Kami juga akan berupaya meberikan sosialisasi kepada kelompok ternak. Dengan harapan dapat merubah mindset peternak untuk memanfaatkan jerami sebagai pakan ternak,” harapnya.

          Sementara itu anggota Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID), Dedi mewakili Ketua TPID Kecamatan Palas, Tomi Wibowo mengatakan untuk tahun ini terdapat tidak desa yang bergarak dalam bidang peteranakan.

          “Untuk di Kecamatan Palas tahun ada tiga desa yang bergerak di bidang peternakan yaitu, Desa Palasjaya, Tanjungsari, dan Kalirejo,” pungkasnya. (vid)