Pertumbuhan Tinggi Badan Dipengaruhi Faktor Sanitasi Buruk

538

PALAS – Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkab Lamsel menyatakan lambatnya pertumbuhan tinggi badan seseorang disebabkan banyak faktor. Salah satunya adalah faktor lingkungan.

Faktor lingkungan yang buruk seperti sanitasi memberikan dampak negatif bagi pertumbuhan seseorang. Untuk itu, faktor lingkungan masyarakat yang bersih menjadi perhatian satuan kerja (Satker) yang membidangi kesehatan ini.

Untuk menurunkan angka lambatnya pertumbuhan tinggi badan (stunting), Pemerintah Kecamatan Palas dan Dinas Kesehatan Lamsel memberikan sosialisasi teknis pelaksaan swasebada WC tingkat desa di kantor Desa Palasaji, Selasa (3/4).

Pantauan Radar Lamsel pertemuan tersebut dihadiri aparat desa dan bidan desa dari 13 desa di wilayah timur Kecamatan Palas. Selain itu hadir juga Kasi Pemberdayaan Dinas Pemaberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Lamsel Derahman.

Pengelola Kesehatan Lingkungan (Kesling) Dinas Kesehatan Lamsel Yuni Supriatini mengatakan, salah satu penyebab stunting adalah buruknya sanitasi di lingkungan masyarakat.

Stunting tidak hanya disebabkan gizi buruk. Tetapi bisa juga disebabkan oleh buruknya sanitasi lingkungan masyarakat; seperti tidak adanya pembuangan kotoran (WC’red) yang menyebabkan lingkungan jadi tercemar,” bebernya.

BACA :  Pasien Covid-19 Bertambah 4

Yuni menerangkan, stunting tidak hanya berpengaruh pada petumbuhan fisik semata, namun juga dapat berpengaruh pada pertumbuhan otak pada anak usia 0-2 tahun.

“ Biasanya dialami pada balita usia 0-2 tahun. Tidak hanya berpengaruh pada pertumbuhan fisik, tetapi juga dapat berpengaruh pada mental anak,” terang Yuni.

Kasi pemberdayaan Dinas PMD Derahman menjelaskan, bimbingan teknis pelaksanaan swasebada WC ini dilakukan agar aparat desa lebih efesien mengunakan Dana  Desa dalam membangun WC.

“ Swasembada Wc ini semacam memberikan stimulus agar masyarakat mau membuat wc di rumahnya. Pembangunannya tidak serta merta mengunakan DD, desa hanya meneyediakan material dan pengerjaan bisa dilakukan secara swadaya atau bergotong royong,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Kecamatan Palas Bambang Prianto mengatakan, dari 13 desa diwilayah timur terdapat empat desa yang sudah mendapatkan sertifikat ODF (tidak buang air besar sembarangan).  Yaitu desa Sukabakti, Bangunan, Palasjaya, dan desa Bangunan. Sedangkan sisanya ditargetkan rampung pada tahun 2018.

BACA :  Implementasikan Sikap Bela Negara Jaga NKRI

“ Dari Maret sampai Juni ditargetkan tiga desa akan selesai yaitu Desa Palasaji, Palas Pasemah dan Desa Pulautengah. Sedangkan 5 desa akan dirampungkan hingga Oktober,” kata dia.

Camat Palas Rika Wati, S.STP, MM mengharapkan kepada aparat desa di Kecamatan Palas dapat menganggarkan DD untuk program swasembada WC. Selain itu Rika menjelaskan, di kecamatan Palas baru terdapat 6 Desa yang mendapatkan sertifikat ODF.

“ Yang sudah mendapatkan sertifikat ODF ada 6 desa. Dua desa diwilayah barat dan empat desa diwilayah timur. Sesuai dengan imbauan Bupati Lamsel, diharapkan kecamatan Palas swasembada WC dapat dirampungkan pada tahun 2018 ini dengan menggunakan DD,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala UPT Puskesmas Kecamatan Sragi Sumari Sasmito yang juga melaksanakan bimbingan teknis pelaksanaan swasebada WC mengatakan, dikecamatan Sragi pada tahun 2018 menargetkan 3 desa yang akan mendapatkan sertifikat ODF.

“Dari sepuluh desa pada tahun ini, kecamatan Sragi menargetkan 3 desa yang mendapat sertifikat ODF. Sedangkan sisanya akan dibangun secara bertahap,” pungkasnya. (CW1)