Petani Dilatih Hemat Air Pakai Alat Ukur

57
Shofyan Apriyansyah – Salah seorang peserta Sekolah Lapangan (SL) pertanian diwilayah Candipuro, berhasil membuat alat ukuran kedalam air manual, hasil bimbingan Penyuluh Pemkab Lamsel, di kantor UPT TPH Bun Candipuro, selasa (12/11).

CANDIPURO – Sebanyak 24 orang Poktan di Candipuro mendapat pembekalan pembuatan teknologi pengamatan kedalaman air manual oleh koordinator Penyuluhan Pertanian Kabupaten Lampung Selatan, Selasa (12/11).

Koordinator Penyuluh Pertanian Kabupaten Lampung Selatan Karyana, SP, mengatakan, pada perinsipnya dari penerapan sistem pengairan Basah Kering (PBK) dilahan pertanian, merupakan suata upaya menghemat air dilahan pertanian yang mampu merangsang peningkatkan hasil produksi. 

“ Para petani candipuro hari ini, kita beri pembekalan terkait tata kelola pengairan hemat air (PBK) dengan membuat alat pengamatan kedalam air secara manual menggunakan pipa. ” kata Karyana.

Manfaat dari penggunaan teknologi ini sambung Karyana, antara lain petani lebih mudah mengelola pengairan dilahan pertanian mereka dengan melakukan pengamatan tingkat kedalam air.

BACA :  Dua Desa Di Candipuro Belum Salurkan BLT DD

“ Petani lebih mudah mengelola air dilahan pertanian dengan cara mengontrol kedalaman air. Bila kedalaman air kira-kira dirasa sudah cukup yakni, 15 centimeter dibawah permukaan  tanah. Lahan sawah sawah kembali diairi dengan ketinggian 5 centimter,” sambungnya.

Selain oitu lanjutnya, dengan menggunakan teknologi sederhana itu, petani juga bisa menyinergikannya pada saat pemupukan dan pengendalaian gulma.

“ Sehingga, dengan tata kelola air yang tepat guna melalui penerapan teknologi ini pemupupukan dapat tercampur dengan tanah secara maksimal. Sehingga pemakaiannya lebih efisien,” tutur Karyana.

Sehingga kata dia, dengan penerapan teknologi PBK menggunakan alat ukur kedalam air dilahan pertanian, mampu merangsang peningkatan hasil produksi.

BACA :  58 KPM Rawaselapan Terima BLT DD

“ Bila penerapan teknologi dilakukan secara tepat maka akan berpengaruh kepada peningkatan hasil produksi. Karena pemupukan dan pengendalain gulma pada tanaman bisa maksimal,” kata Karyana.

Sementara, Rahmat (35) petani Desa Trimomukti mengatakan, penerapan teknologi tata kelola air PBK menggunakan alat ukur kedalaman air menggunakan pipa merupakan hal baru. Dimana, penerapan teknologi PBK dalam tata kelola air akan di uji satu hektar lahan sawahnya.

“ Dengan mencoba teklnologi ini, selain mampu menghemat air saat pengairan disawah juga diharap mampu meningkatkan hasil produksi, dengan menghemat penggunaan air dan pupuk,” harapnya. (CW2)