PPAH Jadi Wadah Petani

40
Ist - Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Penengahan membuat pos pelayanan agens hayati (PPAH).

PENENGAHAN – Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Penengahan membuat pos pelayanan agens hayati (PPAH). Pos ini bakal dijadikan wadah petani sebagai tempat berkegiatan di bidang pertanian, tanaman pangan, dan hortikultura.

Salah satu kegiatan di PPAH ialah pembuatan agens hayati. Sebagai bahan untuk pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) secara ramah lingkungan. Artinya bukan pestisida kimia. Agens hayati yang dibuat adalah PGPR (plant growth promoting rhizobacteria).

Kemudian metharizium, paenibacillus, polimaxa, trychoderma, pupuk cair, serta pestisida nabati. Kelompok PPHT (penerapan pengendalian hama terpadu) tidak hanya sekadar membuat agens hayati saja. Tetapi mereka juga memakainya untuk keperluan pertanian sendiri.

BACA :  Dear PT. PP: Rumah Hamzah Langganan Banjir

“Memang begitu, jadi mereka punya dua keuntungan. Membuat dan memakai,” kata Petugas POPT Kecamatan Penengahan, Syafruddin, kepada Radar Lamsel, Rabu (21/10/2020).

Meski kebersamaan, Syafruddin mengatakan PPAH bukan gabungan dari kelompok tani (Poktan). Melainkan untuk menarik petani yang peduli terhadap lingkungan. Sampai saat ini, lanjut Syafruddin, pihaknya baru mengadakan dua PPAH di kecamatan Penengahan.

BACA :  Di Tanah Leluhur Desa Kuripan, Pandu Berkhidmat

“Yang 1 di desa Taman Baru, dan 1 lagi desa Way Kalam. Harapan ke depan setiap desa memiliki kelompok di PPAH,” katanya.

Lebih lanjut, Syafruddin mengatakan meski diadakan melalui swadaya petani, PPAH merupakan organisasi yang jelas. Ada struktur jabatan dalam kepengurusannya, yang terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. PPAH juga melaksanakan gerakan pengendalian (gerdal).

“Rencananya besok (hari ini’red) gerdal ramah lingkungan kacang tanah dengan luasan 15 hektar, yang melibatkan puluhan petani,” katanya. (rnd)