Praktik Kotor Pengecor, Disdagperin Diam

120

KALIANDA – Praktik pengecor roda dua, dan roda empat di SPBU 21.355.136 mulai tercium. Berbagai macam cara dilakukan demi memenuhi target pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis premium yang akan dijual kembali di kios-kios ataupun eceran. Jika sebelumnya tangki kendaraan roda dua banyak yang dimodifikasi, sekarang beda lagi.

Kebanyakan pengecor membuat tangki nampak standar. Begitu pula dengan tangki mobil. Tetapi ada modus baru di balik sistem pengecoran yang sekarang. Pengecor motor, dan mobil mengambil langkah pertama dengan mengisi premium. Pengecor roda dua pergi ke tempat atau markas yang biasanya menjadi persinggahan mereka setelah mengecor.

Di tempat persembunyian ini, mereka menyiapkan beberapa jeriken yang dipakai untuk menampung bensin hasil coran. Caranya, mereka menyedot bensin dari tangki motor melalui selang kemudian dimasukkan ke dalam jeriken. Modus yang hampir sama juga dilakukan pengecor kendaraan roda empat. Bedanya, mereka menyembunyikan jeriken di dalam kendaraan.

Setelah mengisi bensin dengan operator, mobil pengecor menuju ke arah keluar. Kemudian masuk ke dalam antrean lagi. Ketika berada di posisi antre, mobil ini menggunakan mesin dengan selang untuk menyedot bensin di dalam tangki. Kemudian mengalir masuk ke dalam jeriken yang sudah disiapkan.

BACA :  Sepakat, Tiadakan Portal

“Kalau mobil, kan enak enggak keliatan nyedotnya di dalam mobil,” kata sumber Radar Lamsel, Minggu (20/9/2020).

Di SPBU ini umumnya kendaraan roda empat sekali mengisi bensin nominal Rp250 ribu. Dengan estimasi pengisian sekitar 35 sampai 38 liter per jeriken. Sekali pengecoran, mobil wajib menyetorkan uang sebesar Rp5 ribu kepada operator. Sedangkan motor dikenakan biaya Rp2 ribu untuk setiap pengecoran bensin senilai Rp100 ribu.

Sumber ini mengatakan pengecoran dilakukan hampir setiap hari. Hanya libur di hari Jumat saja. Bahkan saking ramainya jumlah pengecor, mereka dibagi menjadi dua grup. Karena biasanya, per hari setiap mobil bisa mengisi 5 sampai 6 kali dengan nominal pengisian yang sama. Yaitu Rp250 ribu. Artinya, jika satu jeriken berisi 35 liter, per mobil seharinya bisa mendapat jatah 175 liter.

“Kalau per jeriken dapatnya 38 liter, otomatis dapatnya lebih banyak dong,” katanya.

BACA :  Netralitas Kades Kunci Sukses Pilkada

Terlepas dari apapun kesepakatan pengecor dan pihak SPBU, aktivitas yang melibatkan keduanya telah merugikan masyarakat. Memang benar, alasan pengecor memang untuk menjual kembali premiumnya. Tapi naif jika harganya tak dinaikkan. Konsumen normal memiliki hak. Tapi hal ini tak dipedulikan oleh pengecor yang dicap serakah.

Radar Lamsel mencoba menemui pengawas SPBU 21.355.136. Namun sayang, yang bersangkutan sedang tidak bekerja. “Enggak ada, Mas. Lagi pulang, saya juga enggak punya nomornya,” kata salah satu operator SPBU tersebut.

Sementara, Kepala Disdagperin Lamsel Yusri belum bisa dimintai tanggapan soal pelanggaran kasat mata yang terjadi di tengah ibu kota kalianda. Saat dihubungi, meski aktif namun tak kunjung direspon.

Pengecoran di SPBU jelas melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Hal itu tertuang dalam Pasal 55 Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 Tentang Migas. Setiap orang yang menyalahgunakan Pengangkutan dan/atau Niaga Bahan Bakar Minyak yang disubsidi Pemerintah dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling tinggi Rp60.000.000.000,00 (enam puluh miliar rupiah). (rnd)