Proyek Normalisasi Sungai dan Saluran Disoal Warga

595
Ist – Pembangunan normalisasi sungai Citenjo Desa Pemulihan Kecamatan Way Sulan menelan APBD Rp 791.963.000,- disoal lantaran pembangunannya dianggap tak sebanding dengan nominalnya.

WAYSULAN – Pembangunan normalisasi sungai dan saluran pembuangan rawa di Sungai Citenjo Desa Pemulihan, Kecamatan Way Sulan disoal warga.

Itu lantaran proses pembangunan yang minim pengawasan sehingga bangunan saluran pembuangan rawa itu terindikasi dibangun tanpa pondasi yang kokoh. Padahal bangunan sepanjang 300 meter itu menelan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp 791.963.000,-.

“Sudah tiga minggu mas pengerjaannya dimulai, tapi warga heran karena pengerjaannya nggak pakai pondasi. Seharusnya pondasi dulu baru dipasang batu,” ujar M. Nur (35) warga Pemulihan, Sabtu (3/9).

Proses pengerjaan yang terkesan asal-asalan itu dikhawatirkan berdampak pada kualitas pembangunan. Pasalnya jika bangunan sepanjang 300 meter itu tak kokoh amat disesalkan lantaran menelan biaya yang hampir tembus diangka delapan ratus juta.

BACA :  Hasil Lelang Sekda Dilapor ke KASN

“Ini kan sumber dananya dari APBD, jadi sayang sekali kalau nggak bagus. Sebagai warga kami juga sedikit aneh kenapa begitu proses pembangunannya,” kata M.Nur.

Terpisah, Kepala Desa Pemulihan Saparudin membenarkan adanya proyek pembangunan normalisasi sungai dan pembuangan saluran rawa di area persawahan Desa Pemulihan. “Sudah jalan tiga minggu ini mas pengerjaannya,” kata Saparudin.

Dikatakannya, Pemkab Lamsel melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang menggelontorkan APBD untuk pencegahan banjir di sungai Citenjo. “Hampir delapan ratus juta kalau nggak salah, dan saat ini sudah masuk tahap akhir pengerjaannya,” tandasnya.

BACA :  BPJS TK Kalianda Optimalkan 'pelayanan' Lapak Asik

Informasi yang dihimpun Radar Lamsel, penanggungjawab proyek senilai Rp 791.963.000,- itu dibawah tanggungjawab CV. Jenggot Persada dengan nomor kontrak 03/KTR/NSSPR/PUPR-AIR/LS/2017.

Sementara Anggota Komisi C DPRD Lamsel Romli menyayangkan jika benar pengerjaan proyek tersebut tidak beres. Seharusnya kata dia, pondasi dibangun terlebih dahulu kemudian dipasang meterial batu agar kontruksi bangunan menguat. “Jadi kalaupun banjir datang bangunan tidak goyah, kalau benar demikian akan menjadi PR kita bersama,” tandasnya. (ver)