Ribuan SPPT Dikembalikan Warga

482

Kades: Pengembalian Karena Banyak Faktor

PENENGAHAN – Pengembalian SPPT (Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang) di Kecamatan Penengahan mencapai 1.323 lembar. Ribuan SPPT itu berasal dari permohonan pengembalian dari 16 desa yang ada di Kecamatan Penengahan.

Belasan desa yang mengembalikan SPPT tersebut yaitu Desa Kekiling sebanyak 105 SPPT, Belambangan 40 SPPT, Rawi 58 SPPT, Padan 117 SPPT, Kuripan 104 SPPT, Taman Baru 9 SPPT, Ruang Tengah 131 SPPT dan Way Kalam 17 SPPT.

Selanjutnya Desa Pasuruan 131 SPPT, Kelaten 52 SPPT, Kampung Baru 174 SPPT, Banjarmasin 192 SPPT, Gayam 13 SPPT, Sukabarau 108 SPPT, Pisang 28 SPPT dan Tanjung Heran 44 SPPT.

Proses pengembalian ribuan SPPT itu didasari oleh beberapa hal. Selain data kepemilikan ganda dan tanah atau lahan yang sudah terkena pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), pengembalian juga disebabkan oleh faktor nilai bayar yang terlalu mahal dan objek yang tidak ditemukan.

Sejumlah kepala desa (kades) yang menerima pengembalian SPPT dari warganya tak menampik jika pengembalian di dasari oleh hal-hal tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Desa Kekiling Idham Husni yang menyebut permasalahan pengembalian karena nilai terlalu mahal.

“Banyak, nilai yang terlalu mahal. Kemudian objek tanah tidak ditemukan, serta tanah atau lahan yang sudah kena jalan tol,” kata Idham saat dihubungi Radar Lamsel, Senin (15/10/2018).

BACA :  200 Tong Sampah Disebar Pemerintah Desa Gayam

Mengenai persoalan itu, lanjut Idham, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Penengahan dan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan. Salah satu hal yang saat ini masih menjadi masalah yang mengakar adalah keberadaan tower pemancar sinyal.

Menurut Idham, sejauh ini tower selalu menjadi persoalan utama saat tiba waktu pembayaran pajak karena selalu menunggak. Sedangkan, tagihan tower di Desa Kekiling tercatat memiliki nilai yang cukup besar yaitu Rp. 2.500.000,-.

“Untuk Desa Kekiling, tagihan tower sekitar Rp 2 juta lebih. Dari dulu sampai sekarang belum ada solusi penyelesaian masalah ini, jadi sampai sekarang masih menunggak,” katanya.

Mengenai pengembalian SPPT oleh warga yang keberatan, Idham mengaku sudah menemukan solusi dengan meminta dinas dan instansi terkait untuk melakukan peninjauan dan penghitungan ulang. Menurut Idham, langkah ini perlu dilakukan agar sesuai dengan fakta di lapangan.

Kepala Desa Kelaten Joni Amsyah mengatakan bahwa pihaknya juga menerima pengembalian SPPT karena data yang ganda dan keberatan dengan nilai pembayaran. “Ada 200 yang dikembalikan,” kata Joni.

Joni menjelaskan, keberatan tersebut karena warga menilai penghitungan pembayaran dengan fakta di lapangan berbeda. Joni mengatakan bahwa pihaknya sudah menyampaikan perosalan ini kepada dinas dan instansi terkait.

BACA :  55 CJH Sudah Diberi Pembinaan

“Karena subyek tanahnya tidak ada, tapi SPPTnya keluar. Kalau penghitungan tidak sesuai, warga merasa keberatan karena harus membayar lebih,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Camat Penengahan M. Yusuf, S.STP tak menampik jika ada warga yang mengembalikan SPPT. Menurut dia hal itu biasa terjadi karena ada kesalahan data dan data yang ganda.

Menyikapi persoalan pengembalian SPPT tersebut, sementara ini Pemerintah Kecamatan Penengahan sudah mengambil langkah dengan terus melakukan pendataan, menghimbau dan menampung jika ada wajib pajak komplain terkait SPPT ini.

Kemudian, Pemerintah Kecamatan Penengahan akan akan membuatkan surat pengantar untuk pengembalian SPPT ini ke BP2RD (Badan Pengelola Pajak Retribusi Daerah).

Soal pengembalian SPPT yang tanahnya terkena wilayah JTTS, Yusuf mengaku belum mengetahui persoalan itu. Tetapi, Yusuf mengatakan, pengembalian SPPT mungkin saja dilakukan karena tanah tersebut statusnya bukan milik warga.

“Tetapi mungkin saja mereka mengembalikan SPPT itu jika tanahnya bukan milik mereka lagi. Kalau tanah atau lahan yang kena Tol itu menurut saya sudah masuk dan tercatat sebagai aset negara. Tapi kami nanti akan sosialisasikan juga kepada masyarakat mengenai persoalan ini, supaya jelas,” katanya. (rnd)