Rob Datang, Petambak Meradang

66
Ist.Radarlamsel - Salah satu hamparan tambak tradisional yang terdampak banjir rob, di Dusun Kualajaya, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Kamis (4/6). Setidaknya terdapat 150 hektar terendam banjir.

150 Hektar Tambak Terendam Dilaporkan ke DKP

SRAGI –   Ratusan petani tambak tambak tradisional Dusun Kualajaya dan Sumberjaya, Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi, mengalami keruguian belasan juta rupiah akibat banjir rob yang terjadi pada Rabu (3/6/2020) malam lalu. Akibat naiknya air laut tersebut, sedikitnya 150 hektar tambak di dua dusun yang terendam banjir. Sehingga menyebabkan udang windu dan ikan bandeng hanyut terbawa air laut.

Kepala Dusun Kualajaya Saripudin mengatakan, banjir rob yang terjadi pada rabu malam tersebut setidaknya menyebabkan 80 hektar tambak tardisional di wilayah Kualajaya terendam banjir. Sehingga petani mengalami kerugian mencapai belasan juta rupiah.

“Selain merendam pemukiman warga, puluhan hektar tambak tradisional juga ikut terendam banjir. Setidaknya ada sekitar 80 hektar tambak yang terdampak banjir rob,” ujar Saripudin memberikan keterangan kepada Radar Lamsel, Kamis (4/6).

BACA :  Bertahun Dikeluhkan, Cadong Tak Pernah Ditertibkan DKP

Saripudin menjelaskan, kerugian yang dialami petani mencapai Rp 10 juta – Rp 15 juta dalam satu hektar tambak. Hal disebabkan sebagian besar tambak yang terdampak banjir sudah memasuki masa panen.

“Ptani merugi sangat besar bahkan sampai ada yang Rp15 juta. Karena sebagian besar tambak di wilayah  Kuala dan Sumberjaya ini sudah masuk masa panen, ikan dan udang windunya sudah besar-besar dan siap dipanen, namun hanyut terbawa banjir,” terangnya.

Sementara itu Sudarto (46) salah satu petani tambak Dusun Sumberjaya menjelaskan, untuk diwilayah Sumberjaya terdapat 70 hektar tambak yang ikut terendam banjir. “Kalau di Sumberjaya pemukiman warga tidak ikut terdampak. Namun sebagian warga mengalami kerugian karena lahan tambak yang teredam banjir rob,” sambungnya.

Banjir yang terjadi pada malam hari, tutur Sudarto, membuat petani tidak sempat memasang pagar jaring untuk menghindari udang atau ikan  hanyut terbawa arus. Akibat banjir tersebut kerugian yang dialami petani berpariatif mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 15 juta per hektar.

BACA :  Program PSR Terancam Gagal

“ Kalau yang baru tebar benih merugi Rp 5 juta. Yang sudah mau panen sampai Rp 15 juta. Petani enggak sempat pasang pagar jaring lagi, Mas, karena banjir malam,” tuturnya.

Terpisah Plt. Camat Sragi Hipni mengatakan, pihaknya akan terlebih dihulu melakukan pemantauan di lapangan untuk memastikan luas lahan tambak yang terdampak banjir rob tersebut.

“Akan kita croscek dulu di lapangan, berapa luas tambak yang terdapak. Setelah itu baru kita laporkan ke Dinas Perikanan agar ada upaya tindak lanjut yang diberikan kepada petani,” pungkasnya. (vid)