RSUD Bob Bazar Diminta untuk Tidak Lepas Tangan

573
Ist For Radar Lamsel – Anggota DPRD Lampung Agus Bhakti Nugroho menjenguk dan memberikan santunan kepada Siti Hawa (51), warga Desa Guring, Kecamatan Rajabasa di RSUDAM Bandarlampung, Sabtu (18/11).

Soal Rujukan Pasien, Siti Hawa Telantar 12 Jam

KALIANDA – RSUD dr. Bob Bazar Kalianda diminta untuk tidak lepas tangan dalam melakukan rujukan pasien ke RSUD Abdoel Moeluk Bandarlampung.

Harapan ini disampaikan anggota DPRD Provinsi Lampung H. Antoni Imam menyikapi adanya pasien kanker serviks, Siti Hawa (51), asal Desa Guring, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, yang telantar di RSUD Abdoel Moeluk Bandarlampung selama 12 jam.

RSUD dr. Bob Bazar, kata Antoni, harus bisa mengkawal dan memastikan setiap pasien yang dirujuk mendapatkan penanganan kesehatan di RS yang dituju.

“Jadi harus dikawal dan dipastikan. Harus ada kontak terlebih dahulu dengan RS yang menjadi rujukan. Jangan dilepas begitu saja. Ini harus menjadi pelajaran. RSUDAM juga jangan mudah untuk menolak pasien,” kata Antoni Imam kepada Radar Lamsel usai menjenguk pasien yang merupakan warga Lampung Selatan di RSUD Abdoel Moeluk, Bandarlampung, Sabtu (18/11).

Saat menjenguk tersebut, Antoni didampingi dengan anggota DPRD Lampung asal Lamsel lainnya, Agus Bhakti Nugroho. Dalam kesempatan itu, Bang ABN, sapaan akrab Agus Bhakti Nugroho juga menyerahkan santunan untuk meringankan beban pembiayaan pengobatan pasien.

Antoni meyakini pelayanan kesehatan di Provinsi Lampung khususnya di Lamsel semakin hari semakin meningkat. Pola rujukan ini bisa dibenahi seiring dengan upaya pembenahan pelayanan kesehatan di RSUD dr. Bob Bazar yang tengah gencar berbenah.

Sebab, kata Antoni, jika keluarga pasien memiliki informasi yang cukup dalam hal rujukan maka tidak akan terulang lagi pasien telantar di RSUD. “Penolakan itu memang tidak pas secara psikologis. Bayangkan, malam hari, datang dari jauh, kondisi pasien lemah terus disuruh pulang lagi karena tidak ada dokternya. Ini sangat tidak pas apapun alasannya,” ujar Antoni.

BACA :  Saksi HH, KPK Panggil Sekda Lamsel

Kendati begitu, Antoni bersyukur pihak RSUDAM kini sudah merawat Siti Hawa yang sempat telantar selama 12 jam di RS berplat merah tersebut. “Saya juga mengapresiasi para petugas kesehatan. Apapun kekurangannya, tentu hal ini bisa diperbaiki kedepan,” ungkap politisi PKS tersebut.

Diketahui, Pelayanan Abdul Moeloek (RSUDAM) kembali menjadi sorotan. Rumah sakit pelat merah ini diduga menolak melayani pasien rujukan sehingga pasien tersebut sempat telantar di pelataran RS.

Kejadian tak menyenangkan tersebut dialami penderita kanker serviks, Siti Hawa (51). Warga Desa Guring, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, ini sempat sekitar 12 jam ’’menghuni” pelataran RSUDAM.

Kejadian berawal ketika Siti Hawa mendapat rujukan dari RSUD Bob Bazar Kalianda ke Poli Kebidanan Onkologi RSUDAM karena penyakit yang dideritanya. Berdasarkan rujukan itu, Siti Hawa didampingi suami berangkat ke RSUDAM. Mereka tiba Jumat (17/11) sekitar pukul 10.00 WIB. Sayang saat tiba di RSUDAM, dokter poli rujukannya ternyata baru memiliki jadwal pada Sabtu (18/11). Mereka diarahkan kembali keesokan harinya.

Namun karena pertimbangan jarak yang cukup jauh dan biaya, mereka memutuskan untuk meminta perawatan melalui instalasi gawat darurat (IGD). Namun di fasilitas ini, keduanya juga ditolak dengan alasan surat rujukan tidak berlaku.

Akhirnya, Siti Hawa terpaksa beristirahat di pelataran RSUDAM. Budi Silalahi (47), suami Siti, menceritakan, istrinya sempat mendapat perawatan selama satu minggu di RSUD Bob Bazar Kalianda.

BACA :  Ribuan Hektar Sawah Diintai Banjir

’’Istri saya sudah mendapat transfusi 5 kantong darah. Namun, pihak RSUD Bob Bazar Kalianda memutuskan untuk merujuk agar mendapat perawatan yang lebih baik di RSUDAM. Surat rujukan dibuat pada Kamis (16/11),” katanya kepada Radar Lampung (grup Radar Lamsel).

Budi cukup menyesalkan pihak RSUD Kalianda yang tidak berkoordinasi terkait jadwal dokter RSUDAM lebih dulu. ’’Pihak RS Kalianda meminta agar istri saya segera dirujuk supaya segera mendapat perawatan. Namun setibanya kami di RSUDAM, dokter di poli kebidanan yang dituju baru ada jadwal hari Sabtu,” keluhnya.

Setelah sekitar 12 jam terbaring lemah di pelataran rumah sakit, pihak RSUDAM baru mengizinkan Siti Hawa mendapat perawatan di IGD. Kondisi pasien kala itu sudah lemah.

Menanggapi masalah ini, Humas RSUDAM Ahmad Safri mengaku jadwal dokter onkologi kebidanan di RSUDAM hanya pada hari Sabtu. ’’Di RSUDAM dokter onkologi kebidanan jadwalnya hari Sabtu. Sebab, dokter onkologi kebidanan cuma ada satu di Lampung, yaitu dr. Donny,” ucapnya.

Terkait rujukan pasien Siti, Safri mengaku rujukan itu ditujukan untuk poli kebidanan. Namun demikian, kata dia, sebenarnya seorang pasien dapat langsung dirawat jika memang sudah lemah. ’’Kalau memang lemah dapat segera dimasukkan IGD tanpa harus menggunakan rujukan. Namun jika si pasien masih kuat memang harus menunggu Sabtu untuk ke poli,” katanya. (red/edw)