Santunan Ahli Waris Korban Tsunami Tak Cair Lebaran Ini!

266
Ilustrasi

KALIANDA – Masyarakat Lampung Selatan yang menjadi korban tsunami selat sunda kembali menata kesabaran. Sebab, santunan ahli waris sebesar Rp 15 juta per jiwa dipastikan tidak cair pada lebaran tahun ini.

          Kepala Dinas Sosial Lampung Selatan Dulkahar menjelaskan, progres bantuan tersebut masih dalam tahapan input data korban jiwa berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK).

          ” Kami mendata sebanyak 409 ahli waris untuk mendapat santunan sebesar Rp 15 juta itu. Tapi tidak akan bisa dicairkan sebelum lebaran tahun ini. Mengingat tenggat waktu yang mepet dan masih ada beberapa input data oleh jajaran dibawah, karena banyak warga yang kehilangan NIK nya,” kata Dulkahar kepada Radar Lamsel, Senin (27/5).

          Dulkahar melanjutkan, tak hanya bantuan untuk ahli waris saja yang belum cair. Bantuan yang dikemas dengan bahasa santunan hidup pasca tsunami pun demikian adanya.

BACA :  Patroli Besar, Operasi Cipta Kondisi dan Yustisi

          ” Kemungkinan cair itu setelah lebaran, belum lama ini Dinsos juga berkomunikasi dengan pak Bupati, Dirjen dan Kemensos menyangkut hal ini juga agar dapat segera dicairkan,” ungkap dia.

          Mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Lamsel ini menambahkan bahwa pagu dana bantuan pusat tersebut mencapai Rp 6.135.000.000,- untuk 409 ahli waris yang tersebar di wilayah pesisir Lampung selatan.

          ” Pagunya sekitar Rp 6 miliar lebih karena dikalikan jumlah ahli waris sementara per ahli waris mendapat Rp 15 juta. Sesuai dengan SK Bupati Lampung Selatan No. B/185.1/IV.06/HK/2019 tanggal 4 Februari 2019,” sebut Dulkahar.

BACA :  CJH Tunggu Instruksi Kemenkes

          Proses verifikasi dan validasi yang belum tuntas kata dia hanya  untuk dua hal, yakni tentang bantuan santunan hidup masyarakat korban tsunami yang tinggal di hunian sementara (huntara) dan santunan ahli waris.

          Kemungkinan tak cair sebelum lebaran ini sekaligus berdampak pada warga korban tsunami yang hingga kini tak memiliki pekerjaan lantaran alat kerja seperti perahu dan alat tangkap ikan hanyut tersapu tsunami.

          “Ya, melaut juga kapal hilang. Sementara kebutuhan sehari-hari juga harus terpenuhi, sedangkan bantuan yang ditunggu-tunggu juga belum bisa dicairkan. Mudah-mudahan saja pemerintah dapat segera mungkin mencairkan bantuan tersebut, itu saja harapan kami,” kata Rojali (38) nalayan yang sebelumnya kerap beroperasi di Dermaga Bom Kalianda. (ver)