Satu Pelari Lokal Ganggu Dominasi Afrika

390

Lomba Lari 10K Open Krakatau 2018

KALIANDA – Agustina Manik (20) berhasil mencuri perhatian pada gelaran lomba lari 10 kilometer Open Krakatau di kategori umum puteri.

Atlet berdarah Medan asal Bandung itu berhasil finis diurutan ketiga. Dengan hasil tersebut Agustina menjadi satu-satunya atlet yang meraih gelar cukup prestisius diperingkat ketiga, sementara di kategori umum putera peringkat I, II dan III diraih oleh atlet asal Ethiopia dan Kenya.

Agustina mengaku puas dengan hasil yang diraihnya terutama mengganggu dominasi pelari asal Afrika yang digelar di Kalianda. Terlebih atlet lokal lain tak mampu finis diurutan tiga besar.

“ Alhamdulillah cukup puas dengan hasil ini semoga ditahun mendatang lomba semacam ini kembali digelar,” kata atlet berhijab ini usai menerima hadiah uang tunai Rp 15 juta, Minggu (25/11).

BACA :  Persepsi KPU Tak Berubah, Bawaslu Tunggu Keterangan Ahli

Masih kata Agustina, dirinya menggeluti duania atletik sejak duduk dibangku sekolah menengah pertama. Dari sana lanjutnya latihan mulai ditekuninya.

“ Dari SMP sudah suka atletik, kami berangkat dari Medan bersama teman-teman atlet lain yang juga tertarik memacu kekuatan fisik di Lampung Selatan,” terangnya.

Mojang berdarah Medan itu terpaksa mengakui keunggulan dua atlet Kenya Triee dan Mutai yang finis diperingkat satu dan dua. Untuk diketahui hadiah yang diraih peringkat satu senilai Rp 25 juta, peringkat II Rp 20 juta dan peringkat III Rp 15 juta.

BACA :  Maraknya Sejak Lama, Pekan Depan Baru Ditinjau

Sementara warga negara Belanda Melinda (22) yang ikut dalam gelaran tersebut tidak berkecil hati meski pulang dengan tangan kosong tanpa meraih gelar.

“ Tidak apa saya disini karena senang berolahraga dan kebetulan bekerja sebagai pekerja sosial dibidang sanitasi jadi wajar saja kalau harus kalah dihadapkan dengan atlet profesional,” sebut Melinda.

Seperti beberapa turis lain, Melinda juga memuji kehangatan warga Lampung Selatan. Terutama keramahan serta kehangatan yang diterimanya selama berada di Bumi Tapis ini.

“ Masyarakatnya hangat dan ramah, banyak yang mengajak berswafoto dan saya antusias dengan itu semua, tidak ada masalah,” ujar gadis yang suka sekali dengan makanan Ketoprak ini. (ver)