Sulit Dapatkan Mesin Panen, Petani Penen Padi Secara Manual

114
ILUSTRASI

SRAGI – Panen padi musim tanam rendeng tahun ini di wilayah Kecamatan Sragi nampaknya tidak bisa dilakukan secaran modern, menggunakan mesin pemanen Combain.

Sebab, sejak dimulainya musim panen padi pada dua pekan lalu selain jasa panen mengalami kenaikan harga. Sejumlah petani juga mengaku jasa panen padi menggunakan mesin Combain tersebut sulit didapatkan.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Maju Jaya Desa Margajasa Rosidin mengatakan,  musim panen rendeng pada tahun ini yang sudah dimulai sejak dua pekan lalu ditempuh petani secara manual, menggunakan tenaga buruh. Tanpa menggunakan mesin Combain.

“Tahun ini memang berbeda, proses panen padi dilakukan secara manual menggunakan tenaga buruh. Tanpa menggunakan mesin Combain,” ujar Rosidin memberikan keterangan Radar Lamsel, Selasa (19/5).

Rosidin menjelaskan, hal ini dilakukan lantaran petani pada musim panen rendeng tahun ini, petani sulit mendapatkan jasa panen menggunakan mesin. Disisi lain jasa panen menggunakan mesin Combine tersebut mengalami kenaikan harga dari Rp 600 ribu per kotak atau seperempat hektar  menjadi Rp 800 ribu.

BACA :  Ayam Bantuan Mati, Diganti Ayam Pilek

“Biasanya setiap panen banyak alat panen (Combain) dari luar daerah seperti Palembang dan Serang banyak yang masuk. Tapi untuk rendeng tahun ini sediki sekali, bahkan tidak ada. Akibatnya harga jasa panen juga naik, sampai Rp 800,” terang Rosidin.

Saat ini, sambung Rosidin, proses panen padi dilakukan secara manual yaitu dengan sistem Bawon atau bagi hasil. Meski dana yang dikeluarkan  tak jauh berbeda dengan Combain, namun proses panen dengan sistem Bawon ini membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Pengeluarannya sama saja baik Bawon atau pakai Combain. Cuma kalau pakai Combain panen satu hektar selesai dalam dua jam. Sedangkan Bowon, menggunakan tenaga manusia bisa sampai dua hari,” ucapnya.

BACA :  Petambak Swadaya Normalisasi Parit

Kelangkaan mesin pemanen padi tersebut diamini oleh Kepala Unit Pelaksana Teknis Penyuluh Pertanian Kecamatan Sragi Eka Saputra. Menurutnya kelangkaan ini juga dipengaruhi oleh dampak pandemi Covid-19.

“Banyak alat dari luar daerah tidak bisa masuk, karena ada pembatasa sosial ini. Biasanya ada puluhan alat yang masuk tapi untuk saat ini tidak ada,” tuturnya.

Hingga saat ini, sambung Eka, dari 2.532 hektar tanaman padi terdapat sekitar 300 hektar yang telah dipanen yang sebagian besar menggunakan cara manual.

“Di Sragi hanya ada dua kelompok yang punyak Combain yakni Desa Baktirasa dan Sukapura itu pun mesinnya sudah tua. Akibatnya saat ini proses panen dilakukan secara manual karena tidak ada mesin panen,” pungkasnya. (vid)