Teruslah Berkarya Al Muhtarom, Nanang Siap Lestarikan dan ‘Jual’ Budaya Lampung

564
Edwin Apriandi - Plt. Bupati Lamsel Nanang Ermanto memberikan sebuah gitar Yamaha kepada Al Muhtarom sebagai bentuk apresiasi kepada para seniman.

Dari Silaturahmi Pemain Gitar Tunggal dengan Plt. Bupati Nanang Ermanto

Ada hikmah dalam setiap peristiwa. Ada berkah dalam setiap langkah. Itulah benang merah silaturahmi antara Plt. Bupati Lamsel Nanang Ermanto dengan pegiat seni gitar tunggal Al Muhtarom di rumah Dinas Bupati Lamsel, Minggu (17/2/2019) malam. Seperti apa silaturahmi itu?

Laporan EDWIN APRIANDI, KALIANDA

PETIKAN gitar tunggal yang dimainkan Al Muhtarom memecah keheningan malam itu. Jari jemarinya begitu lincah memainkan chord gitar Yamaha seri FSX 315 C pemberian Plt. Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto sebagai bentuk apresiasi kepada seniman.

Al begitu sapaan akrabnya, juga langsung klop dengan ‘mainan’ barunya itu. Bak musisi kawakan, ia diberikan waktu seluas-luasnya untuk mengeksplorasi semua jiwa seni tanpa batas. Sejumlah lagu, ia mainkan dengan penuh ekspresi.

Bahkan, lagu ‘Kumbang Kupi’ yang mengawali pertunjukan ‘spesial’ itu, langsung mendapat applause dan membuat kepala Plt. Bupati Nanang mengangguk-ngangguk. “Kalau dihayati suara gitar tunggal ini bikin merinding, ya. Penuh sakralitas,” kata Nanang Ermanto kepada Radar Lamsel.

Malam itu Al dan para pegiat seni daerah memang sengaja diundang Plt. Bupati Lamsel Nanang Ermanto untuk mentas. Undangan itu disampaikan Nanang saat menyambangi kediaman Al di Desa Pauh Tanjungiman, Kecamatan Kalianda, siang harinya.

Kedatangan orang nomor satu di kabupaten berjuluk Khagom Mufakat ini untuk menyampaikan permohonan maaf. Sebab, Al merasakan kekecewaan lantaran pertunjukannya di panggung amal tsunami Lamsel diberhentikan.

Al nampak lepas dan lapang bermain gitar malam itu. Kebahagiaan juga terpancar dari wajahnya. Selain membawakan lagu ‘Kumbang Kupi’, Al, juga membawakan lagu ‘Di Ikhak-Ikhak’ yang berduet dengan Zulaikhan Haidir, rekan satu desanya.

Termasuk lagu ‘Punyandangan’ yang lirik lagunya dinyanyikan oleh Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Dra. Intji Indriati.

Plt. Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto mengaku bangga ada seorang pemuda yang mau melestarikan adat istiadat, seni dan budaya Lampung. Sebab, menurutnya, belakangan ini pemuda banyak meninggalkan kearifan lokal yang sejatinya harus dijaga dan dilestarikan.

BACA :  Anggaran Corona Nyaris Selip Miliaran

“Dimata saya, yang namanya pemuda millenial itu ya seperti Al Muhtarom ini. Dia hidup dijaman millenial tetapi tidak meninggalkan warisan budaya nenek moyang kita,” ungkap Nanang dalam wawancara.

Dalam silaturahmi itu, Nanang Ermanto juga berdialog dengan sejumlah pegiat seni dari masyarakat adat. Nanang berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan adat budaya Lampung khususnya Lampung Selatan.

Sebab, kata Nanang, dimasa yang akan datang kearifan lokal adat istiadat, seni dan kebudayaan akan menjadi industri yang akan menguntungkan masyarakat. Tentu masyarakat yang mau melestarikannya. “Mengenai keindahan alam, kita sudah diberkahi Allah SWT. Tinggal dikemas dan dikelola untuk kemaslahatan rakyat. Tinggal bagaimana adat, seni dan budaya yang kita miliki ini harus dijaga dan terus dilestarikan,” ungkap Nanang.

Pelestarian adat, seni dan budaya daerah, kata Nanang, itu bukan tanpa alasan. Lampung Selatan dimasa yang akan datang akan menjadi wilayah yang sangat sentralistik dan strategis dalam pengembangan kepariwisataan. Terlebih saat ini telah dibangun Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang akan memudahkan jalur transportasi darat.

“Kalau kita tidak siap, mau jadi apa kita? Kalau kita tidak melestarikan adat, seni, dan budaya apa yang mau kita ‘jual’ kepada wisatawan yang datang?,” tanya Nanang.

Karena hal itu, ia mengaku akan konsen terhadap pengembangan dan pelestarian adat, seni dan budaya Lampung sebagai fundamental dan modal pembangunan ekonomi masyarakat. Nanang meyakini, kearifan lokal adat, seni dan budaya Lampung Selatan bisa memiliki harga yang tak ternilai selain kebudayaan itu menjadi jati diri masyarakat Lampung Selatan.

Keuntungan itu memang tidak begitu saja langsung bisa dinikmati. Namun Nanang yakin lima, sepuluh sampai 20 tahun kedepan akan ada nilai atas pelestarian adat, seni dan budaya yang dilakukan saat ini.

“Dari dulu saya konsen kalau urusan budaya. Saya jadi pemimpin ini selalu memegang teguh apa yang diajarkan founding fathers bangsa kita bung Karno. Yaitu berdaulat dibidang politik, berdikari dibidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan,” ungkap dia.

BACA :  Fraksi PKS Serahkan APD Buat Tenaga Medis Bob Bazar

Soal kebudayaan daerah, Nanang memang selalu cerewet. Meski dirinya keturunan Jawa, ia selalu lantang bicara mengenai kebudayaan Lampung. Terlebih jika keaslian kebudayaan itu tak sesuai dengan apa yang diajarkan. Salah satunya mengenai persembahan sekapur sirih dalam Tari Sembah. Di era kekinian, persembahan sekapur sirih itu memang banyak diganti dari kapur sirih dengan permen.

“Sebenarnya yang diajarkan itu yang seperti apa? Permen apa sekapur sirih? Bagi saya kalau memang kapur dan sirih, ya itu saja yang terus dilestarikan. Jangan di ganti menjadi permen. Kalau di ganti kan hilang sakral-nya,” ungkap Nanang.

Juga mengenai musik tradisional pengiring tari Sembah. Belakangan ini musik pengiring tersebut diputar menggunakan kaset atau rekaman lagu. Namun belum lama ini dia melihat anak-anak di Tanjungsari menari Sembah dengan gamelan yang dimainkan secara langsung.

“Makanya para pemain ini saya undang juga secara khusus untuk tampil. Inilah cara dan upaya saya melestarikan adat budaya Lampung,” ungkap Nanang.

Apa yang dikatakan Nanang memang diamini para pegiat seni budaya Lampung dalam silaturahmi itu. Taklama mereka juga memberikan masukan agar Plt. Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto dapat meninjau penggunaan siger bagi masyarakat adat Lampung Saibatin.

Menurut mereka jumlah siger masyarakat adat Lampung Saibatin berjumlah tujuh bukan sembilan seperti yang banyak digunakan saat ini.

Mendapat masukan itu, Nanang siap menindaklanjutinya. Ia mengaku akan melakukan kajian kembali mengenai penggunaan siger masyarakat adat Lampung Saibatin dengan melibatkan akademisi yang memahami mengenai kebudayaan Lampung. “Kita bisa gandeng pihak akademisi. Bisa Universitas Lampung dan lainnya. Nanti akan kita kaji kembali, ya,” ungkap Nanang.

Dipenghujung dialog, Nanang Ermanto juga mendapatkan salam dari para pangeran adat Saibatin. Salam itu disampaikan Minakkhaja Suku. Mendapat salam tersebut, Nanang mengungkapkan akan bersilaturahmi para tokoh adat Saibatin di Lampung Selatan. “Sampaikan salam hormat saya kepada para pangeran adat. Dalam waktu dekat saya akan berkunjung,” pungkas Nanang. (*)

Berikut Liputan Saburai TV: