Tunggu Musum Hujan, Petani Produksi Batu Bata

335

PALAS – Musim kemarau yang cukup panjang menghentikan aktivitas pertanian di Dusun Magelang, Desa Bangunan, Kecamatan Palas.

Untuk menyambung kebutuhan hidup, sambil menunggugu datangnya musim hujan, sejumlah petani diwilayah setempat mengubah lahan pertanian mereka menjadi tempat pembuatan batu bata.

Tino (48), salah satu petani mengaku, sejak musim kemarau empat bulan lalu tidak bisa menanam padi. Untuk menyambung hidup ia beralih profesi menjadi pengrajin batu bata. “Sudah menjadi pekerjaan rutin saat musim kemarau, Mas. Karena lahan pertanian disini hanya mengandalkan curah hujan baru bisa melakukan penanaman,” kata Tini, Senin (29/10).

BACA :  Daya Tahan Tubuh Masuk RPP Paud

Dengan mengubah sepetak lahan sawahnya, dalam sehari Tino mampu mencetak 500 – 1.000 batu bata yang bisa ia jual dengan harga Rp 250.000 per 1.000 batu bata.

“Selama musim kemarau ini saya sudah meproduksi 60 ribu batu bata. Meski tidak selalu ada pembeli setiap bulannya, tapi hasinya lumayan untuk memenuhi kebutuhan keluarga saat musim kemarau,” ujarnya.

Narimo (45) warga lainnya mengaku menjadi pengrajin batu bata merupakan pekerjaan rutin petani setempat saat menungu datangnya musim pengujan. “Ini sudah menjadi kebiasan petani setempat. Saat musim kemarau lahan atau pekarangan rumah dijadikan tempat pembuatan batu bata,” ujarnya.

BACA :  Daya Tahan Tubuh Masuk RPP Paud

Sementara itu Kepala Desa Bangunan Isnani menejalaskan setidaknya terdapat 50 petani yang menumpukan hidup mereka menjadi pengrajin batu bata saat menungggu musim kemarau. “Kurang lebih ada 50 pengrajin yang membuat batu bata saat kemarau,” tutupnya.  (vid)