Warga Dua Desa Dilatih Membuat Olahan Keripik

192
Rifky - LP2M UIN Raden Intan Lampung saat melatih pembuatan keripik di desa Kertosari, Rabu (6/11).

TANJUNG SARI – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Nergeri (UIN) Raden Intan Lampung mengadakan pelatihan pembuatan keripik pisang dan keripik singkong di Balai Desa Kertosari, Rabu (6/11).

Pelatihan itu dihadiri oleh ketua bidang pengabdian LP2M UIN Lampung Supaijo dan diikuti oleh ibu-ibu Desa Kertosari. Dalam waktu yang sama, pelatihan itu dilakukan di dua lokasi yang berbeda, yakni pelatihan pembuatan keripik di Desa Kertosari dan pembuatan anyaman piring menggunakan lidi di Desa Sidomukti.

Supaijo menjelaskan bahwa LP2M memiliki pusat pengabdian. Pusat pengbdian itu menjadi perpanjangan tangan dari UIN untuk mengkomunikasikan terkait dengan bidang Sumber Daya Manusia (SDM), skill dan lain-lain.

“Jadi peran LP2M ini memberikan pemberdayaan atau pelatihan yang terkait dengan potensi pengembangan sumberdaya yang ada di desa-desa,” ucap Supaijo saat ditemui Radar Lamsel di Balai Desa Kertosari.

Dia juga mengatakan perguruan tinggi tidak hanya melakukan pembelajaran di kampus saja, tetapi menurutnya kampus juga memiliki kewajiban pencerahan dengan mengadakan pelatihan-pelatihan.

“Jadi pelatihan kami ini sesuai dengan potensi yang ada di desanya masing-masing, sebenarnya desa Kertosari ini mau membuat bolu, tapi bahan baku untuk itu dihasilkan dari industri, seperti tepung dan lainnya,” kata Supaijo.

Masih kata Supaijo pelatihan pembuatan keripik dipilih lantaran  bahan yang dibutuhkan tidak sulit didapatkan dan tersedia di desa. “Makanya kami memberi usulan pembuatan keripik dengan berbagai varian rasa,” pungkas Supaijo.

Kades Kertosari Albert Halomoan S. berharap adanya pelatihan itu dapat menjadi ispirasi bagi warga desa kertosari, khususnya pada kalangan ibu-ibu.

“Harapan kita ibu-ibu mau bersama membuat keripik itu, syukur-syukur bisa menjadi icon desa Kertosari, bila perlu keripik hasil karya warga kami bisa di pasarkan keseluruh desa maupun luar kota,” tutur Albert.

Sementara itu, warga Desa Kertosari Trinyani(50) mengaku mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari pelatihan itu, dapat dilihat pada dirinya yang sangat ingin membuat dan memasarkan hasil keripik buatannya. Amat disayangkan, lagi-lagi kemarau menjadi salah satu penyebab kelangkaan bahan baku pembuatan keripik itu.

“Saya pengen banget mas buat keripik terus di jual, tapi bahan bakunya kalau sekarang susah kita dapat, ya mungkin karena kemarau panjang hasil panen petani juga menurun,” ungkap Triyani. (CW1)