Warga Jaga Rumah Pembunuh AD

204
Rifky - Kondisi rumah AD korban pembunuhan di Tanjung Bintang.

WAY SULAN – Jasad AD (16), yang ditemukan di Desa Sindangsari, Kecamatan Tanjung Bintang pada tanggal 19 Mei 2020 lalu merupakan warga Dusun Trisno Basuki Timur, Desa Talang Way Sulan, Kecamatan Way Sulan, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel). Dia merupakan anak bungsu dari pasangan Nur Hakim dan Salimah.

Salimah, ibu korban berprofesi sebagai penjahit, sementara ayah korban Nur Hakim berprofesi sebagai tukang servis elektronik keliling. Saat Radar Lamsel ke kediaman korban, Salimah enggan memberi keterangan dikarenakan masih syok atas meninggal anak bungsunya itu. Sedangkan Nur Hakim saat itu masih bekerja dan akan pulang kerumah pada waktu malam hari.

AD sendiri masih duduk di bangku kelas III di Madrasah Tsanawiyah (Mts) Yayasan Darul Ulum. Sedangkan, AD mempunyai satu adik perempuan bernama Salma yang baru berusia lima tahun. Menurut tetangga korban yang tidak ingin namanya disebutkan itu menjelaskan bahwa, korban berserta keluarga dikenal baik di lingkungan masyarakat, tetapi orang tua korban dikenal pendiam.

“Pendiamnya ya seperti orang pada umumnya bukan berarti tertutup, hanya keluarganya lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya,” jelasnya kepada Radar Lamsel di Desa Talang Way Sulan, Selasa (2/6).

Menurutnya, semasa hidupnya AD kerap melakukan ibadah secara rutin. Bahkan, ruko yang berada persis di depan rumahnya itu kerap dijadikan tempat berkumpul AD berserta rekannya.

“Dia pernah di pesantren selama satu tahun di Jawa, pengen pindah ke sini karena katanya tidak betah. Saya malah seneng kalau dia (AD) sama kawan-kawannya ngumpul, jadi ada yang ronda,” ungkapnya.

Di sisi lain, Kepala Sekolah MI Yayasan Darul Ulum Badrun Rosid menerangkan bahwa kedua pelaku yakni RMB (18) dan AF (17) juga merupakan lulusan dari sekolah yayasan tersebut. Dikarenakan RMB memiliki etika yang kurang baik membuat dirinya dikeluarkan dari sekolah.

“Mereka berdua juga mantan murid saya tapi hanya lulusan Mts saja. Waktu Aliyah RMB itu memang kami keluarkan karena anaknya memang nakal. Kalau AF tetangga korban, dia sempat meneruskan ke Aliyah tapi dia keluar karena kabarnya sering di bully karena orang tuanya merantau,” kata dia.

Dikarenakan jasad AD yang ditemukan sudah tidak dikenali, seluruh guru di yayasan tersebut awalnya tidak percaya jika mayat yang ditemukan itu adalah AD. Namun, Badrun tetap yakin jika jasad tersebut adalah AD.

“Awalnya masih pada belum percaya jika itu AD, tetapi saya yakinkan. Kami juga tidak diperbolehkan melayat ke  rumahnya karena keluarganya memang masih belum bisa menerima kenyataan dan masih suka mengingat AD,” paparnya.

Dia menambahkan jika hingga saat ini warga masih kerap berjaga di malam hari antara rumah AD dan AF yang merupakan tetangga korban guna menghindari hal yang tidak diinginkan.

“Sampai sekarang warga masih berjaga jaga waktu malam, takutnya nanti terjadi hal yang tidak diinginkan,” Imbuhnya. (cw1)