Warga Rela Serahkan Uang Rp 100 Juta

1075
Idho Mai Saputra – Aparatur Desa Agom, Kecamatan Kalianda menggelar rembuk desa menindaklanjuti dugaan pungli, di Balai Desa Agom, kemarin.

Soal Kasus Pungli Mantan Kades, Tim 9 Sebut tak Ada Pemerasan dan Pungli

KALIANDA – Ratusan masyarakat Desa Agom, Kecamatan Kalianda menggelar rembuk desa di balai desa setempat, Senin (23/1) kemarin.

Kegiatan tersebut merupakan wujud keprihatinan warga kasus yang membelit mantan pemimpin mereka yang diduga melakukan pemerasan dan pungutan liar (pungli).

Bahkan, hasil keputusan rembuk desa itu warga sepakat akan membuat penyataan yang ditandatangani warga yang lahannya dibebaskan untuk pembangunan jalan tol trans sumatera (JTTS) guna membebaskan Mukhsin Sukur.

Pantauan Radar Lamsel, beberapa tokoh masyarakat, aparatur desa dan warga yang lahannya mendapatkan ganti rugi JTTS memaparkan kronologis awal mula pembebasan lahan JTTS.

Tim pembebasan lahan JTTS desa yang mengatasnamakan tim 9 mengaku telah mulai melakukan proses pembebasan lahan mulai dari pendataan hingga pengumpulan berkas-berkas sejak dua tahun silam.

Mereka membantah jika ada tekanan bahkan pemerasan yang dituduhkan kepada Mukhsin Sukur setelah mereka mendapatkan ganti rugi lahan.

“Tidak ada pemerasan atau sejenisnya seperti yang saya baca di koran. Justru kami sangat berterimakasih atas kerja keras tim 9 ini yang sudah mengurusi berbagai surat-menyurat lahan kami. Sehingga, kami bisa mendapatkan ganti rugi yang jumlahnya cukup besar. Apalagi, soal potongan 2,5 persen dari hasil pencairan,”ujar H. Faisal warga Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo yang lahannya berada di Desa Agom.

BACA :  Dorong Penggunaan Transaksi Non-Tunai

Dia melanjutkan, setidaknya lahan seluas 5.075 meter persegi miliknya yang berada di Desa Agom tergusur pembangunan jalan tol dan telah mendapatkan ganti rugi. Pasal rasa terimakasih atas kinerja tim 9 tersebut, dirinya bahkan menyedekahkan 20 persen dari hasil ganti rugi lahan senilai Rp500 jutaan kepada warga Agom atau sekitar Rp 100 Juta.

“Karena saya merasa warga Agom. Dan saya sangat berterimakasih kepada aparatur desa yang sudah mengurus semuanya. Uang itu saya bagikan sendiri kepada fakir miskin, orang jompo dan ke masjid yang ada di Agom. Dan juga, ada sedikit yang saya berikan kepada aparatur desa sebagai ucapan terimakasih,”lanjutnya.

Dia menambahkan, hal tersebut dinilai merupakan hal yang sangat wajar. Sebab, kinerja tim 9 yang selama dua tahun mengurusi lahan tidak mendapatkan upah.

“Mungkin ini yang saya bilang norma-norma yang tumbuh di masyarakat. Dan ini tidak tertulis. Kebiasaan masyarakat dan adat istiadat yang tumbuh dikalangan masyarakat,”imbuhnya.

Hal senada yang dikatakan Zainal Abidin tokoh masyarakat setempat. Dia mengaku prihatin atas kejadian yang menimpa Mukhsin Sukur.

Pasalnya, sangat tidak logis jika dia dituduh memeras salah seorang warga yang baru menerima uang miliaran dari hasil ganti rugi JTTS dengan uang yang diterimanya.

“Dari barang bukti yang diamankan hanya uang Rp2 juta dan emas senilai Rp8 juta. Padahal orang yang bersangkutan itu baru menerima uang ganti rugi JTTS yang nilainya miliaran lebih. Kalau bukan dijebak, lalu apa ?,”kata Zainal yang merupakan anggota tim 9.

BACA :  sTim 86 Adminduk Siap Beraksi!

Dia menjelaskan, Desa Agom sendiri mengaku telah menerbitkan peraturan desa (Perdes) nomor 1 tahun 2012 tentang jual beli tanah yang 2,5 persen masuk ke dalam kas desa. Dan, telah ditandatangani oleh BPD dan Aparatur Desa.

Namun, dengan adanya pembebasan lahan JTTS ini perdes tersebut tidak diberlakukan. “Kami bersama warga lain yang lahannya tekena JTTS sudah seringkali mengadakan pertemuan. Bahkan, kami telah menyepakati apabila ganti rugi JTTS dicairkan warga akan memberikan imbalan secara sukarela. Itu sudah disetujui semua warga,”terangnya.

Tokoh masyarakat lainnya, Joko mengatakan, dirinya bersama warga Agom akan terus memberikan suport kepada Mukhsin Sukur agar terus bersabar menghadapi cobaan tersebut. Bahkan, warga berkomitmen akan melayangkan surat pernyataan bahwa tidak ada pemerasan bahkan pungli dalam persoalan tersebut.

“Semua warga juga sudah sepakat akan menjenguk Mukhsin Sukur untuk memberikan dukungan moral dan motivasi. Karena, kami melihat beliau bekerjanya cukup baik. Agom ini terdapat berbagai suku dan agama. Dipimpin beliau kita bisa bersatu. Kami tetap menghormati proses hukum. Namun, kami minta hukum juga tidak asal-asalan dalam melakukan tindakan,”pungkas Joko. (idh)