White Syndrome Melanda Petambak Merugi

41
Ist.Radarlamsel – Inilih udang windu petanmbak Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi yang terkena virus WS. Akibat serangan virus tersebut, petambak mengalami kerugian jutaan rupiah.

SRAGI – Wabah penyakit White Sindrom (WS) kembali melanda tambak udang di Desa Bandar Agung. Akibat penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut sejumlah petambak, gagal panen.

Abdul Rohim (42) salah satu petambak mengatakan, serangan penyakit WS tersebut terjadi sejak dua bulan belakangan. Akibat virus tersebut rubuan udang mati dengan warna kulit kemerahan.

“Sudah dua bulan ini, Mas.  Kebanyakan yang diserang udang windu yang sudah berusia dua bulan kita tebar, udang mati dengan kulit berwarna merah,” ujar Abdul, petani tambak  memberikan keterangan kepada Radar Lamsel, Senin (19/10) kemarin.

Abdul mejelaskan, akibat serangan penyakit tersebut hasil penen tambak milikinya mengalami penurunan drastis. Biasanya, setiap panen bisa menghasilkan lima kwintal udang, namun saat ini hanya menghasilkan satu kwintal udang.

BACA :  Ketua Komisi IV Disebut Backup Rekanan Ngawur

“Dua hektar tambak dengan menebar 25 ribu benih, biasanya setiap panen bisa dapat 4 – 5 kwintal. Sekarang cuma dapat satu kwintal, banyak petani yang merugi,” terang Abdul.

Adenan (45) juga mengungkapkan hal yang sama, bahkan pada musim ini ia hanya bisa memanen 50 kilogram udang. Kerugian yang ai alami ditaksi mencapai Rp 5 juta.

“Udang diserang penyakit tidak ketahuan. Tahu-tahu pas panen udang sudah habis banyak yang mati, busuk. Yang bisa dipanen hanya 50 kilogram, kerugian mencapai Rp 5 juta untuk beli benih,” sambungnya.

BACA :  Itera Resmikan Kebun Hidroponik

Hal senada juga diutarakan oleh Sudarto (46) menurutnya akibat serangan penyakit tersebut sebagian petani terpaksa memanen udang lebih awal. Sebab hingga saat ini penyakit WS tersebut belum bisa ditanggulangi.

“Hari ini saja ada lima hektar yang panen, padahal udang baru usia dua bulan. Kalau tidak dipanen udang bisa habis, karena sampai saat ini penyakit WS ini belum ada obatnya,” pungkasnya. (vid)